top of page

Koneksi India Ahmad Subardjo

Jauh sebelum menjadi menteri luar negeri Republik Indonesia, Subardjo membangun jaringan anti imperialisme dengan orang-orang India di Jerman.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 11 Des 2020
  • 3 menit membaca

AWAL tahun 1927, kongres antikolonial berlangsung di Burssel, Belgia. Sebanyak 21 negara dari 5 benua mengirimkan utusannya, baik resmi atau pun sekadar mengirimkan aktivis perkumpulan yang aktif menentang imperialisme. Utusan dari Indonesia juga turut hadir, dengan Bung Hatta sebagai ketua rombongan. Bersama empat orang lainnya, Bung Hatta duduk sebagai perwakilan Perhimpunan Indonesia.


Kongres yang berlangsung dari tanggal 10-15 Februari 1927 di Istana Egmont tersebut membahas masalah-masalah kolonial dari berbagai sisi. Para utusan juga mengemukakan kondisi di negaranya masing-masing, dan dampak yang ditimbulkan kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat di tanah airnya. Di akhir rapat, kongres membentuk “League against Imperialism and for National Independence” dengan sekretariat tetap di Berlin, Jerman.


“Karena saya menaruh perhatian mengenai perkembangan dari kongres ini, yang saya anggap sangat penting dalam sejarah dunia, saya mengambil keputusan untuk mengamati kegiatan sekretariat tersebut dari dekat,” kata Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi.


Ahmad Subardjo datang bersama utusan dari Perhimpunan Indonesia. Namun sewaktu rombongan kembali ke Belanda, dia memilih tetap tinggal di Jerman. Di sanalah kemudian Subardjo bertemu seorang tokoh dari India yang selama kongres cukup menonjol bernama Virendranath Chattopadhaya (akrab dipanggil Chatto).


Chatto merupakan keturunan keluarga terkemuka di Bengal, India. Dia telah menetap cukup lama di Jerman sebagai orang buangan setelah usahanya menyelundupkan senjata dari Eropa ke India dalam suatu upaya penggulingan pemerintah Inggris pada waktu Perang Dunia I gagal. Dia dijatuhi hukuman mati. Tetapi entah bagimana caranya Chatto berhasil meloloskan diri dan akhirnya hidup dalam pengasingan di Jerman.


Menurut Subardjo, kawan Indianya itu adalah seorang yang pintar, periang, menarik, serta mengesankan. Kegemarannya pun cukup unik: membaca dan menyanyikan sajak Hindu. Chatto bekerja di kantor Sekretariat Kongres Liga. Dia bertugas mengerjakan hasil-hasil konferensi dan menerbitkannya.


“Kami menjadi kawan baik. Inilah sebabnya kenapa saya suka pergi ke Berlin karena mempunyai Chatto sebagai penduduk lama dari kota tersebut dan penunjuk jalan yang berpengalaman dan pemimpin,” ucapnya.


Chatto memberi banyak pelajaran tentang perjuangan kepada Subardjo. Pernah satu waktu, Subardjo mendengar kabar tentang penangkapan kawan-kawannya di PI oleh pemerintah Belanda. Tanpa pikir panjang, dia mempersiapkan kepulangan ke Belanda. Menurutnya itu adalah suatu bentuk rasa setia kawan. Namun segera dicegah oleh Chatto. Dia menyebut perasaan seperti itu sangatlah baik, tetapi dalam politik terkadang emosi berlebihan tidaklah baik, hanya akan mencelakakan. Maka Chatto pun menawarkan sebuah solusi.


“Mengapa tidak menghadiri konferensi Liga yang sedang kami selenggarakan,” ujar Chatto. “Kamu harus berbicara di sana mengecam tindakan-tindakan penindasan dari pemerintah Belanda.”


Subardjo setuju. Dia lalu pergi ke Brussel pada pertengahan 1927. Di depan para peserta Liga, Subardjo memberikan pidato tentang penindasan yang dilakukan Belanda di negerinya. Para hadirin memberi kesan baik terhadap pidatonya itu. Dukungan pun mengalir kepadanya. Bahkan banyak yang mendoakan nasib baik untuk kemerdekaan tanah airnya.


Selama di Berlin, Subardjo rupanya memiliki hubungan istimewa dengan koneksi-koneksi India-nya yang lain. Mereka datang langsung dari India dan memutuskan menetap di Berlin akibat kondisi gawat di negerinya. Satu yang cukup dekat dengan Subardjo adalah keponakan Chatto bernama Naidu. Dia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Berlin. Naidu juga ternyata putra Ny. Saroniji Naidu, seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di India.


Anggota keluarga lainnya adalah Harindranath Chattopadhaya, adik Chatto. Harin, biasa Subardjo menyapanya, diketahui seorang yang berbakat di bidang kesusastraan. Karya-karya syairnya banyak diterbitkan di India.


“Saya suka kepadanya. Dia sangat periang, dan bisa mengambil hati saya, dan sebagai penyair dia bersemangat tinggi. Tetapi ia juga suka kepada segala apa yang baik di dunia, seperti saya, dia juga suka makan enak dan mendengarkan musik populer di café-café atau restoran-restoran di Kurfurstendamm, Jerman,” kata Subardjo.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
bg-gray.jpg
Before Tarumanagara, there was a civilization called Buni. What is the story of Tarumanagara's origin?
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
transparant.png
bottom of page