- 5 Okt 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 13 Apr
HENK Sneevliet baru menginjak usia tiga tahun ketika ibunya, Hendrika Johanna Mackelenbergh meninggal dunia karena sakit paru-paru kronis. Suaminya, Antonie Sneevliet, pembuat cerutu di Rotterdam yang berpenghasilan minim tak mampu membiayai perawatan terbaik bagi istrinya. Nyawa Hendrika tak tertolong lagi. Dia meninggalkan dua anak: Henk dan adiknya yang masih kecil, Christina.
Henk sebenarnya anak kedua. Lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Dia punya abang yang meninggal saat masih kecil, juga karena penyakit paru-paru. Ellen Santen, cucu tiri Henk dari istri keempatnya, Mien Draaijer, mengisahkan keluarga Antonie hidup serba kekurangan di tengah merebaknya wabah TBC. “Warga Belanda kelas bawah waktu itu banyak menderita TBC. Mereka hidup miskin dan Henk dibesarkan dalam keadaan demikian,” ujar Ellen kepada Historia saat ditemui di rumahnya di bilangan Nieuwe Prinsengracht, Amsterdam, pertengahan April yang lalu.
Sepeninggal istrinya, Antonie membawa Henk dan Christina dari Rotterdam ke rumah ibunya di s-Hertogenbosch, sebuah kota kecil di sebelah selatan Belanda. Sementara kedua anaknya dititipkan di rumah ibunya, dia bekerja sebagai penjaga penjara di Roermond, 90 kilometer ke selatan s-Hertogenbosch. Ketika menikah lagi, Henk dan Christina diboyong ke Roermond. Namun Henk tak betah tinggal dengan ibu tirinya dan memilih pulang ke rumah neneknya di s-Hertogenbosch. Dari pernikahan keduanya, Antonie punya dua anak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















