top of page

Lebih Dekat Menengok Katedral Sepakbola di Dortmund

Stadion yang punya tradisi “Tembok Kuning” turut jadi venue Piala Eropa 2024. Dibangun setengah abad lampau dengan dana pas-pasan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kemegahan stadion Signal Iduna Park yang berkapasitas terbesar di Jerman (Randy Wirayudha/Historia)

20 Jun 2024
6 menit membaca

STADION Signal Iduna Park turut jadi satu dari 10 venue yang menghelat laga-laga Piala Eropa (Euro) 2024 sepanjang 14 Juni-14 Juli 2024. Kendati resminya punya kapasitas terbesar, stadion megah dan unik di kota Dortmund itu hanya gelar karpet untuk enam partai.


Stadion ini mendapat jatah empat pertandingan untuk babak penyisihan: Italia vs. Albania (Grup B) pada 15 Juni, partai Türkiye vs. Georgia (Grup F) pada 18 Juni, pertandingan Türkiye vs. Portugal (Grup F) pada 22 Juni, serta laga Prancis vs Polandia (Grup D) pada 25 Juni. Lalu, di babak knock out, yakni babak 16 besar (juara Grup A vs runner-up Grup C), dan laga semifinal 2.


Stadion yang dijuluki “Katedral Sepakbola Jerman” itu saat dibangun pada 1971 punya nama Westfalenstadion, merujuk kota Dortmund yang berada di wilayah Negara-bagian Nordrhein-Westfalen. Namun sesuai kesepakatan dengan sponsor kemudian, untuk periode 2005-2031 stadionnya menyandang nama Signal Iduna Park. Atas alasan sponsorship itu pula jika stadionnya menggelar laga internasional, identitasnya diubah sementara jadi BVB Stadion Dortmund.



Laga Italia vs Albania dan Georgia vs Türkiye di BVB Stadion Dortmund (X @EURO2024)
Laga Italia vs Albania dan Georgia vs Türkiye di BVB Stadion Dortmund (X @EURO2024)

Signal Iduna Park, yang jadi kandang klub mapan Borussia Dortmund, merupakan stadion berkapasitas terbesar di Jerman. Mengutip laman resmi Bundesliga, Selasa (18/6/2024), di level liga domestik, stadion itu rata-rata menampung 81.365 penonton. Jumlahnya lebih banyak ketimbang Allianz Arena/Munich Football Arena yang jadi venue pembukaan Piala Eropa 2024 dengan rata-rata 75 ribu penonton, atau Olympiastadion Berlin yang jadi venue final Piala Eropa 2024 dengan rata-rata 74 ribu penonton.


Signal Iduna Park punya kapasitas terbesar jika memainkan laga-laga domestik, yakni lebih dari 81 ribu penonton, karena jadi stadion satu-satunya di Eropa yang memiliki tribun berdiri. Tribun unik ini letaknya di sisi selatan, yang punya tradisi unik “Die Gelbe Wand” alias Tembok Kuning, merujuk basis fans fanatik Borussia Dortmund di Sudtribüne atau Tribun Selatan dengan kapasitas 24.545 penonton. 


Jumlah itulah yang berkurang karena tribun unik ini terpaksa berganti jadi tribun bertempat duduk untuk memenuhi standar UEFA dan FIFA. Alhasil kapasitasnya berkurang dari 81 ribu menjadi 66 ribu penonton saja.



Sisi luar dan dalam Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia)
Sisi luar dan dalam Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia)

Sejarah 50 Tahun dan Tradisi Die Gelbe Wand


Tribun-tribun di segala penjuru stadion malam itu, 14 Agustus 2016, disesaki 81.360 suporter. Saat itu Signal Iduna Park menghelat laga final DFL-Supercup antara antara tuan rumah Borussia Dortmund kontra Bayern Munich. 


Di tingkat dua tribun utara tempat saya turut menyaksikan laga, bukan pengecualian meski mayoritas tribun itu ditempati suporter tim tamu. Meski demikian, vibe yang bikin bergidik dari tribun seberang, Südtribüne, begitu terasa di sini. 


Atmosfer yang tak kalah menggelegar dari Stadion Anfield di Liverpool maupun Gelora Bung Karno di Jakarta turut tercipta di Sudtribüne yang jadi basis ultrasnya Dortmund. Atmosfer itu tercipta dari yel-yel, sorakan penyemangat, dan aksi-aksi koreografi atraktif nan menggema dari hampir 25 ribu fans dengan warna khas kuning untuk menciptakan Die Gelbe Wand (Tembok Kuning).



Tradisi Gelbe Wand alias Tembok Kuning di Südtribüne yang jadi basis fans fanatik Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia)
Tradisi Gelbe Wand alias Tembok Kuning di Südtribüne yang jadi basis fans fanatik Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia)

Menurut salah satu petinggi klub, Carsten Cramer, saat ditemui sehari setelah laga itu, tradisi Tembok Kuning sudah eksis sejak Borussia Dortmund mulai menempati stadion itu sebagai kandang resminya pada 1974. Saking dianggap sakral, khusus di Sudtribüne pihak manajemen klub tak pernah memajang papan-papan iklan sponsor.


“Gelbe Wand  adalah aset bagi klub kami. Kami ingin terus berusaha meraih hati fans, bukan sekadar meraih uang dari mereka karena datang ke stadion, mereka sudah memberikan waktu, cinta, dan gairah mereka untuk klub,” ujar Cramer.


Sebelum 1974, Dortmund menempati stadion yang lebih kecil, Stadion Rote Erde. Stadion yang masih berdiri itu lokasinya bersebelahan dengan Signal Iduna Park. Menyusul kesuksesan Dortmund sebagai klub Jerman pertama yang punya titel Eropa pasca-menjuarai Piala Winners’ musim 1965-1966, klub membutuhkan stadion yang lebih besar. 



Petinggi klub, Carsten Cramer (kiri) (Randy Wirayudha/Historia)
Petinggi klub, Carsten Cramer (kiri) (Randy Wirayudha/Historia)

Kebetulan, pada 1966 Jerman Barat resmi terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 1974. Pemerintah Kota Dortmund pun mesti bersiap menyediakan venue lantaran ditunjuk pemerintah federal Jerman Barat untuk menggantikan kota Köln yang mundur dari keikutsertaannya jadi salah satu tuan rumah pertandingan.


“Sebetulnya sudah sejak 1961 Dortmund menggagas ekspansi stadion Rote Erde, antara merenovasi atau membangun stadion baru. Namun yang menjadi kendala terbesarnya adalah keterbatasan dana. Tentu anggaran publik bisa digunakan seiring Jerman Barat terpilih jadi host Piala Dunia 1974 tapi pemerintah kota mustahil bisa menghabiskan anggaran lebih dari 6 juta DM (deutshemarks, red.), yang artinya hanya bisa membangun stadion kecil atau stadion berongkos sangat murah,” tulis Uli Hesse dalam Building the Yellow Wall: The Incredible Rise and Cult Appeal of Borussia Dortmund.


Satu dari sekian solusi yang muncul adalah dari gagasan Erich Rüttel, salah seorang pejabat dewan kota, pada Mei 1970. Ia mengusulkan pembangunan stadion yang lebih ringkas tanpa arena atletik dan pembangunannya menggunakan elemen-elemen prefabrikasi. Prefabrikasi adalah pembuatan bagian-bagian konstruksi yang dilakukan oleh pihak pabrik untuk langsung dipasang, dirakit, dan digabungkan bagian-bagian intinya.



Stadion Rote Erde yang jadi kandang lama Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia)
Stadion Rote Erde yang jadi kandang lama Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia)

Usul itu kemudian disetujui. Desainnya cukup simpel, berbentuk persegi, tidak mengikuti stadion-stadion lain yang berbentuk oval karena akan lebih menghabiskan anggaran. Rancangan dan pembangunannya di sebelah Stadion Rote Erde dibantu firma aristektur Planungsgruppe Drahtler. Pembangunannya dimulai pada 18 Oktober 1971 dengan bantuan dana pemerintah federal.


Menukil laman resmi klub, konstruksi di atas lahan 50.000 meter persegi itu membutuhkan 1.500 ton baja tulang dan 6.500 meter persegi beton yang diproses langsung di situs konstruksi. Untuk menopang atapnya, dibutuhkan 750 baja tambahan.


Stadionnya resmi dibuka pada 2 April 1974, yang juga jadi momen klub pindah kandang. Penamaan stadionnya juga berasal dari usul Rüttel, “Westfalenstadion”, dengan pertimbangan sebagai stadion di kota terbesar di wilayah Westfalia.



Pembangunan Westfalenstadion hingga laga pembukanya usia rampung pada 2 April 1974 (bvb.de)
Pembangunan Westfalenstadion hingga laga pembukanya usia rampung pada 2 April 1974 (bvb.de)

“Stadionnya dibangun antara (tahun) 1971 dan 1974 untuk Piala Dunia 1974 dengan kapasitas awal 54.000 penonton. Pemerintah dan dewan kota memutuskan membangun stadion palet yang menggunakan desain konstruksi prefabrikasi. Biaya pembangunannya hanya mencapai 31,7 juta DM dengan anggaran pemerintah kota, pemerintah negara bagian, dan pemerintah federal,” ungkap Werner Balhauff dalam BVB Borussia Dortmund: Fussball mit Tradition und Herzblut.


Dortmund atau BVB tentu mendapat kehormatan untuk menjajal pertama markas barunya itu, pada 2 April 1974, dengan menjamu Schalke 04. Selain Parkstadion di Gelsenkirchen, Westfalenstadion jadi stadion terbaru yang digunakan di Piala Dunia edisi ke-10 itu.


Di Piala Dunia 1974, Westfalenstadion mendapat jatah menggelar empat laga. Masing-masing tiga laga babak penyisihan: Zaire (kini Kongo) vs. Skotlandia (Grup 2), Belanda vs. Swedia (Grup 3), Bulgaria vs. Belanda (Grup 3); dan satu partai penyisihan babak kedua Belanda vs Brasil (Grup A).



Laga Piala Dunia 1974 antara Belanda vs Swedia di Westfalenstadion (bundesliga.com)
Laga Piala Dunia 1974 antara Belanda vs Swedia di Westfalenstadion (bundesliga.com)

Sebelum kembali ikut jadi host di Piala Dunia, yakni Piala Dunia 2006, Westfalenstadion sempat tiga kali direnovasi. Pertama, pada 1992, berupa pendirian tribun di sektor utara, di tingkat bawah tribun timur, dan tingkat bawah tribun utama barat dikonversi menjadi tribun bertempat duduk sehingga menyisakan tribun berdiri di tribun selatan yang berdampak pada berkurangnya kapasitas dari 54.000 menjadi 42.800 penonton. Semua demi menyesuaikan regulasi UEFA. 


Kedua, pada 1995 pasca-BVB memenangkan Bundesliga. Tribun utama timur dan barat ditambah jadi tingkat dua sehingga kapasitasnya kembali menjadi 54.000 penonton. Ketiga, pada 2000 seiring Jerman mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2006, stadionnya ditambahi empat tribun baru di empat sudutnya agar empat tribun sebelumnya yang terpisah menjadi tersambung. 


Firma arsitektur Architekten Schröder Schulte-Ladbeck juga memodifikasi penopang interior atapnya menjadi penopang atap eksterior berupa pipa baja kuning yang mencolok seperti yang ada sekarang di empat sudutnya. Alhasil, Westfalenstadion yang sejak 2005 berganti nama jadi Signal Iduna Park memiliki kapasitas 81.365 penonton. Lebih dari 24 ribu di antaranya berdiri di Südtribüne.



Tribun berdiri di Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia)
Tribun berdiri di Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia)

Di Piala Dunia 2006, Signal Iduna Park yang menyandang nama FIFA World Cup Stadion Dortmund karena alasan sponsor, menghelat enam laga. Selain partai penyisihan Trinidad dan Tobago vs. Swedia (Grup B), ada laga Jerman vs. Polandia (Grup A), Togo vs. Swiss (Grup G), Jepang vs. Brasil (Grup F), serta Brasil vs. Ghana (babak 16 besar), dan Jerman vs. Italia (semifinal).


Menjelang Euro 2024, yakni pada 2 April 2024, pihak klub menyempatkan diri mengadakan peringatan 50 tahun Westfalenstadion/Signal Iduna Park. Dalam peringatan itu, Dortmund menjamu VfB Stuttgart dengan mengenakan jersey khusus yang meniru desain jersey ketika Dortmund memainkan laga perdananya di stadion itu pada 2 April 50 tahun silam.


“Laga kandang kami melawan VfB Stuttgart sepenuhnya didedikasikan untuk memperingati 50 tahun stadion kami. Kuil ini telah menjadi rumah kami selama setengah abad dan stadion ini adalah tempat di mana ribuan momen tak terlupakan yang ingin kami rayakan bersama pada hari yang istimewa,” tukas pernyataan klub di laman resminya, 3 April 2024. 



Borussia Dortmund memperingati 50 tahun Westfalenstadion/Signal Iduna Park (bundesliga.com)
Borussia Dortmund memperingati 50 tahun Westfalenstadion/Signal Iduna Park (bundesliga.com)


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Seorang pelancong AS yang mabuk mengambil sepotong semangka dan menolak membayar setelah mencicipinya. Memantik perkelahian yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan belasan orang.
Seorang pelancong AS yang mabuk mengambil sepotong semangka dan menolak membayar setelah mencicipinya. Memantik perkelahian yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan belasan orang.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
Ini tentang manusia mulai mengenal komik, superhero pertama dalam komik, tokoh pencipta Tintin, dan komik bertema kehidupan masyarakat Indonesia.
Ini tentang manusia mulai mengenal komik, superhero pertama dalam komik, tokoh pencipta Tintin, dan komik bertema kehidupan masyarakat Indonesia.
transparant.png
bottom of page