top of page

Makhluk Halus dalam Catatan Perjalanan Orang Belanda

Catatan perjalanan para pelancong Eropa umumnya tentang kuliner dan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakat di Hindia Belanda. Namun, ada pula yang menuliskan cerita makhluk halus.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Augusta de Wit. (Letterkundig Museum).

30 Agu 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 24 Mei

MEMASUKI abad ke-19, Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa, telah menarik minat banyak pelancong asing. Mereka umumnya menulis catatan perjalanan yang berisi tentang kondisi geografis dan keindahan alam daerah-daerah yang dikunjunginya. Tak jarang mereka juga menulis tentang kuliner dan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakat setempat.


Menurut Achmad Sunjayadi, pengajar dan peneliti di Program Studi Belanda dan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, catatan perjalanan tak hanya berguna bagi penulis sebagai sarana aktualisasi diri, tetapi juga berharga bagi orang lain, terutama berkaitan dengan informasi wilayah yang dikunjungi. “Catatan perjalanan merupakan salah satu sumber untuk mengetahui kondisi masyarakat dan memberikan gambaran wilayah di Hindia Belanda,” tulisnya dalam Pariwisata di Hindia-Belanda (1891–1942).


Kebanyakan penulis catatan perjalanan berasal dari Eropa dan Amerika dengan beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari pegawai sipil, perwira militer, peneliti (naturalis), hingga pemuka agama. Salah satunya Augusta de Wit, kontributor The Strait Times, surat kabar berbahasa Inggris di Singapura. Penulis perempuan asal Belanda itu berkunjung ke Jawa pada 1894.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page