- 20 Apr 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 10 Apr
HARI sudah menjelang senja ketika Letnan Mitsuyoshi Hamasuna memimpin satu peleton pasukan patroli masuk ke rimba di utara Buin, Pulau Bougainville, Papua Nugini pada 19 April 1943. Begitu tiba di lokasi pesawat jatuh yang sejak pagi ia lacak, perwira muda dari Angkatan Darat (AD) ke-17 Jepang itu terperangah. Tak disangkanya itu pesawat Jepang.
Sehari sebelumnya, 18 April, ia memang melihat sebuah kepulan asap dari posnya. Tapi ia mengira ada pesawat Amerika Serikat yang jatuh hingga kemudian membawa 12 anak buahnya untuk melacaknya ke dalam hutan.
Rupanya, pesawat jatuh yang ditemukan Hamasuna adalah pesawat pembom medium Mitsubishi G4M “Betty”. Pesawat bernomor registrasi 323 itu milik kesatuan Kōkūtai 705 (Grup Udara 705) AL Jepang. Yang lebih mengagetkannya adalah, jasad yang ada di dalamnya adalah panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto beserta jasad para bawahan sang panglima: Laksamana Pertama Rokorou Takata, Letkol Kurio Toiban, dan Letkol Noburu Fukusaki.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















