top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mengabadikan Kenangan Lewat Foto Kematian

Memotret orang meninggal populer di Eropa era Victoria. Jenazah dihias untuk dipotret sebagai kenang-kenangan bagi mereka yang ditinggalkan.

21 Jan 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Foto kematian Kaisar Jerman, Frederick III, tahun 1888. (Reichard & Lindner/Wikimedia Commons).

Diperbarui: 30 Des 2025

TAK ada yang lebih dirindukan daripada sesuatu yang tidak bisa lagi dimiliki, dan tidak ada kehilangan yang lebih terasa daripada yang disebabkan oleh kematian. Berkabung merupakan cara lazim mengekspresikan rasa kehilangan atas kematian orang yang dikasihi. Bagi mereka yang ditinggalkan, kematian pasangan, anggota keluarga atau teman dekat terasa lebih menyesakkan karena menciptakan kekosongan di tengah upaya melanjutkan hidup dan berusaha mengisinya dengan kenangan. Dalam kondisi seperti ini, foto adalah representasi dari apa yang tidak ada.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page