top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Merekam Dua Sisi Pematangsiantar

Berkunjung ke Pematangsiantar. Tempat di mana sejarah dan modernisasi berbaur menjadi satu.

31 Jul 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Seorang warga saat melintas di tengah kota Pematangsiantar, Sumatra Utara. (Fernando Randy/Historia.ID).

  • 31 Jul 2022
  • 2 menit membaca

SEBAGAI salah satu wilayah permukiman lama yang pernah diduduki Belanda dan Jepang, Pematangsiantar di Sumatra Utara bergelut dengan banyak perubahan. Namun, di tengah geliat perkembangan masa, jejak-jejak masa lalu tidak lantas hilang. Salah satu jejak masa lalu itu adalah kebiasaan masyarakat berkumpul di kedai kopi pada pagi hari.


Kegiatan itu tidak hanya soal mengisi perut, melainkan sebuah aktivitas sosial. Kegiatan sarapan ini merupakan sarana masyarakat untuk berdiskusi tentang apa saja dengan siapa saja yang mereka temui di kedai kopi. Dengan tradisi sarapan itu juga, masyarakat turut menjaga eksistensi kuliner khas Pematangsiantar, yaitu kopi Siantar, cakwe, dan roti srikaya.


“Sarapan di kedai begini memang sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga bahkan dari dulu dari zaman ayah saya. Beliau sudah sering mengajak saya sarapan kopi dan roti di berbagai kedai disini,” kata Edward (42) yang datang bersama anak dan istrinya.

Seorang warga usai memberi makan puluhan burung di Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.id).
Seorang warga usai memberi makan puluhan burung di Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Sejumlah warga saat menikmati sarapan di salah satu kedai di kawasan Siantar. (Fernando Randy/Historia.id).
Sejumlah warga saat menikmati sarapan di salah satu kedai di kawasan Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Sejumlah warga saat beraktivitas di depan Gedung Juang 45 kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID)
Sejumlah warga saat beraktivitas di depan Gedung Juang 45 kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Berbagai bangunan dan stasiun Siantar yang menjadi saksi sejarah kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID).
Berbagai bangunan dan stasiun Siantar yang menjadi saksi sejarah kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID).
Para petani usai memetik daun teh di Siantar tempo dulu. (geheugen.delpher.nl).
Para petani usai memetik daun teh di Siantar tempo dulu. (geheugen.delpher.nl).

Jejak sejarah lain yang dapat kita lihat adalah Hotel Siantar, yang dibangun dan beroperasi pada masa pendudukan Belanda di wilayah itu, pada 1915. Saat ini, ada banyak hotel lain di Pematangsiantar. Namun, seperti halnya tradisi sarapan di kedai kopi, Hotel Siantar tetap memiliki daya tarik tersendiri.


Seiring perkembangan zaman pula, Pematangsiantar semakin ramai. Suasana pagi yang dulu relatif tenang, berubah menjadi lebih ramai. Banyak orang berlalu-lalang dengan bentor atau becak motor. Ada pula warung kwetiau dengan asap dan wangi membuat kita tak tahan untuk berhenti dan mencicipnya.

Pemandangan di Hotel Siantar tahun 1930-an. (KTLV).
Pemandangan di Hotel Siantar tahun 1930-an. (KTLV).
Para tamu hotel saat berada di Hotel Siantar yang merupakan hotel legendaris kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID).
Para tamu hotel saat berada di Hotel Siantar yang merupakan hotel legendaris kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang tamu hotel saat menikmati sarapan di Hotel Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang tamu hotel saat menikmati sarapan di Hotel Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Suasana kolam renang di Hotel Siantar, Sumatra Utara. (Fernando Randy/Historia.ID).
Suasana kolam renang di Hotel Siantar, Sumatra Utara. (Fernando Randy/Historia.ID).

Ketika malam datang, suasana kota semakin menarik dengan kehadiran kendaraan bermotor dengan lampu berwarna-warni yang biasa disebut odong-odong. Merekam Pematangsiantar di saat ini seperti melihat dua dunia yang berbeda. Perilaku masyarakatnya pada masa kini beriringan dengan suatu pemahaman untuk terus menjaga sebuah tradisi.


Boleh jadi, tradisi sarapan di kedai kopi menjadi sebuah filter alami yang menjembatani perubahan zaman dan peralihan generasi. Tradisi ini seperti fenomena yang menumbuhkan harapan bahwa Pematangsiantar akan terus berkembang tanpa kehilangan identitas dan keunikan mereka sendiri.

Seorang penjual bakmi saat menyiapkan sarapan di kedainya. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang penjual bakmi saat menyiapkan sarapan di kedainya. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang warga saat melintas di jalan raya Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang warga saat melintas di jalan raya Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Salah seorang warga saat menunggu bentor di Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Salah seorang warga saat menunggu bentor di Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Sejumlah warga saat menikmati wahana odong-odong di alun-alun kota Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Sejumlah warga saat menikmati wahana odong-odong di alun-alun kota Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang warga saat menikmati suasana di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang warga saat menikmati suasana di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang penjual martabak tertidur saat menunggu pembeli di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).
Seorang penjual martabak tertidur saat menunggu pembeli di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page