top of page

Mimpi Damai di Filipina Selatan

Konflik di Filipina Selatan berakar sejak zaman kolonial Spanyol. Tak terselesaikan hingga kini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Moro National Liberation Front (MNLF)

  • 27 Sep 2013
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 6 Mei

MILISI Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), kelompok separatis yang berpusat di selatan Filipina, menyerang pasukan pemerintah di Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan, awal September lalu. Pertempuran pun pecah. Ratusan orang tewas dan disandera pasukan MNLF. Militer bereaksi dan berhasil menangkap beberapa pemberontak.


Penyerangan itu terjadi menjelang penandatanganan perjanjian damai antara pemerintah dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), pecahan dari MNLF. Selain mengakhiri konflik, poin perjanjian damai mencakup pembagian kekayaan sumber daya alam dan mineral serta pemerintahan otonom di Pulau Mindanao.


MNLF menganggap pemerintah Filipina tak menghormati perjanjian yang ditandatangani antara MNLF dan pemerintah pada 1996. Sebagai responnya, Nur Misuari, ketua MNLF, memproklamasikan kemerdekaan Bangsamoro pada Agustus 2013 dan mendirikan Bangsamoro Republik (UFSBR).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page