top of page

Miskinnya Sisingamangaraja XII

Sebelum Belanda datang, penguasa lain sudah memiskinkannya. Padahal keluarga Sisingamangaraja kaya turun-temurun berkat monopoli kapur barus dan kemenyan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 26 Jul 2024
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 17 Jun 2025

KAPUR (Dryobalanops aromatica) sebagai tanaman kini hampir tak dikenal orang. Di daerah penghasilnya, Kabupaten Pakpak, Sumatera Utara pun masyarakat tak mengetahui tanaman penghasil kapur barus tersebut.  


“Ditanya  warga, kapur gak tahu,” ujar Ichwan Azhar, pengajar sejarah di Universitas Negeri Medan (Unimed).


Berangkat dari realitas tersebut, Ichwan terpacu untuk menelitinya. Berbekal rekannya yang –sesama dosen– menjadi wakil bupati kabupaten tersebut, Ichwan menelusuri hutan alam yang ada di sana beberapa tahun belakangan.


“Setelah kami telusuri, ada dan masih dicari (orang) di hutan. Harganya Rp700.000 satu botol. Satu botol minuman limun itu,” sambungnya.


Harga tersebut bisa berlipat hingga jutaan rupiah jika diolah menjadi parfum dan beragam produk turunaan lainnya. Nilai ekonomis tinggi itu pula yang membuat kaya Dinasti Sisingamangaraja di Tanah Batak dulu.


Bukan hal aneh jika raja yang berkuasa umumnya kaya. Selain memungut pajak, umum raja ikut berdagang juga. Bahkan, memonopoli perdagangan di wilayah kekuasaannya.


“Sisingamangaraja dinasti di dalam periode lebih-kurang 1550-1819, dapat menimbun begitu banyak harta berupa gold and jewelries (emas dan perhiasan), karena mereka selama 10 generasi menguasai monopoli kemenyan serta monopoli camphor,” catat Mangaradja Onggang Parlindungan dalam Tuanku Rao.


Apa yang dimaksud champor adalah kapur barus. Daerah Sumatra Utara pada masa lalu terkenal sebagai penghasil kapur barus. Kapur barus ini bukan kapur barus yang biasa dipakai dalam keseharian rumah tangga orang Indonesia sekarang, untuk melawan serangga. Kapur barus masa lalu adalah air kapur yang bisa diminum.


Air kapur yang bisa diminum itulah yang asalnya dari pohon kapur atau sering disebut kapur (kafuur dalam bahasa Arab). Tanaman kapur sendiri hanya ada di Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia. Dalam paper-nya berjudul “Politik Hisotriografi Sejarah Lokal: Kisah Kemenyan dan Kapur dari Barus, Sumatera Utara” di Jurnal Sejarah dan Budaya Universitas Ngeri Malang (1 Juni 2017), Ichwan menyebut perdagangan kapur sudah terjalin sejak abad ke-2 Masehi. Dari perdagangan itu, orang Barus terkoneksi dengan orang Arab, yang bisa jadi juga melalui orang India.


Kapur barus telah dikenal di dunia Arab jauh sebelum Islam muncul. Bahkan jauh sebelum itu, kapur itulah yang digunakan orang-orang Mesir untuk membalsam mayat para firaun. Satu dari banyak kegunaan kapur barus itu terus dimanfaatkan orang-orang Arab hingga setelah Islam muncul. Dalam sebuah haditsnya, Nabi Muhammad Saw memerintahkan penggunaan kapur itu untuk prosesi pensucian jenazah sebelum disalatkan.


“Mandikanlah ia tiga atau lima kali atau lebih daripada itu dengan air dan daun bidara. Pada akhirnya taruhlah kafuuran (kapur barus) atau sedikit kapur barus,” demikian nabi bersabda yang diriwayatkan Ummu Athiyah.


Jadi, sebelum Sisingamangaraja I berkuasa pun kapur sudah diperdagangkan dan ikut memperkaya penguasa tanah Batak sebelum dirinya. Namun, raja-raja di Sumatra tak punya kebiasaan membangun istana megah dari batu mahal seperti raja-raja di Jawa. Para raja di Sumatra lebih suka membelanjakan harta mereka untuk hal-hal yang bernilai ekonomis ketimbang konsumtif semata, semisal untuk perhiasan. Perhiasan raja-raja Sumatra bisa berasal dari luar negeri, seperti dari Srilangka atau India.


Kebiasaan itu berlanjut terus. Di tanah Batak, Sisingamangaraja juga melakukannya. Maka tak heran demikian bila tidak pernah ditemukan istana megah yang dibangun Sisingamagaraja.


Sayangnya, tak semua raja dengan gelar Sisingamangaraja kaya-raya berkat kapur barus. Apalagi setelah pelabuhan-pelabuhan di Sumatra Utara dikuasai Belanda.


“Sesudah tahun 1819, Sisingamangaraja XI serta Sisingamangaraja XII tidak lagi memegang monopolis tersebut dan tidak lagi kaya raya seperti Sisingamangaraja X,” catat Mangaradja Parlindungan.


Hilangnya monopoli atas kapur itu disebabkan karena serangan orang-orang Padri ke Bakara, pusat kekuasaan Sisingamangaraja. Pasukan Padri dari Sumatra Barat yang dipimpin Tuanku Lelo itu berhasil mengalahkan Sisingamangaraja X. Tuanku Lelo lalu menjadi warlord di sana, termasuk mengatur perekonomian setempat.


Selain itu, Tuanku Lelo juga merampasi perhiasan milik keluarga raja yang banyaknya sekitar 1.000 kg. Jadi, sebelum tentara KNIL menyerbu Bakara untuk menghabisi Sisingamangaraja XII, orang-orang Padri sudah merampok Bakara.


“Harta kerajaan di masanya Sisingamangaraja XII memang tidak sebegitu besar, bila dibanding dengan masa kejayaan nenek moyangnya dahulu,” catat Augustine Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
transparant.png
bottom of page