- 26 Jul 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
KAPUR (Dryobalanops aromatica) sebagai tanaman kini hampir tak dikenal orang. Di daerah penghasilnya, Kabupaten Pakpak, Sumatera Utara pun masyarakat tak mengetahui tanaman penghasil kapur barus tersebut.
“Ditanya warga, kapur gak tahu,” ujar Ichwan Azhar, pengajar sejarah di Universitas Negeri Medan (Unimed).
Berangkat dari realitas tersebut, Ichwan terpacu untuk menelitinya. Berbekal rekannya yang –sesama dosen– menjadi wakil bupati kabupaten tersebut, Ichwan menelusuri hutan alam yang ada di sana beberapa tahun belakangan.
“Setelah kami telusuri, ada dan masih dicari [orang] di hutan. Harganya Rp700.000 satu botol. Satu botol minuman limun itu,” sambungnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















