top of page

Multatuli

"Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia," kata Multatuli.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patung Multatuli di Belanda. (Bonnie Triyana/Historia.ID).

3 Mar 2017
3 menit membaca

DIA hanya menetap selama kurang dari tiga bulan di Rangkasbitung, Lebak. Datang pada Januari 1856 dan meninggalkan kota kecil itu pada April tahun yang sama. Pulang membawa luka dan kecewa. Menuliskan semua itu di sebuah kamar kecil yang sempit di Brusel, Belgia. Dia meradang, menggugat ketidakadilan yang ditemuinya selama bertugas di Lebak. Membongkar praktik busuk tanam paksa yang dijalankan pemerintah kolonial.


Tak lama sebelum karyanya terbit, dia mengirim secarik surat untuk Raja Willem III, penguasa negeri Belanda. “Apakah yang mulia tahu ada 30 juta lebih rakyat di Hindia yang disiksa atas nama yang mulia?” kata Multatuli dalam suratnya. Raja tak bergeming. Karya yang berjudul Max Havelaar of De koffieveillingen der Nederlandse Handelsmaatshappij (Max Havelaar atau persekutuan lelang dagang kopi Belanda) akhirnya terbit pertama kali pada 1860.


Maka perkara busuk itu pun meluap kemana-mana. Multatuli digadang-gadang sebagai pembuka rahasia penjajahan Belanda atas Hindia kepada dunia. Karyanya diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Karyanya dibaca banyak tokoh pembebasan, mulai Jose Rizal dari Filipina sampai Sukarno di Indonesia. Ia semacam inspirasi bagi mereka yang tak suka ketidakadilan terjadi di depan mata.


Tapi Multatuli tak hanya dipuja. Dia juga dicerca. Rob Nieuwenhuys berpendapat bahwa Multatuli adalah pejabat yang gagal memahami struktur masyarakat tradisional di Jawa. Sehingga protesnya terhadap pemerintah kolonial atas korupnya bupati Lebak dinilai salah kaprah. Banyak juga yang menganggap Multatuli sebagai seorang yang frustrasi, yang menulis Max Havelaar bukan semata karena membela ketidakadilan namun untuk membalas rasa sakit hati akibat pemecatannya.


Sulit memang menduga apa yang berkecamuk dalam hati Multatuli. Satu yang pasti, Max Havelaar, buah tangannya itu dikutip oleh banyak tokoh. Menjadi semacam landasan argumentasi untuk menunjukkan betapa buruknya wajah kolonialisme di Hindia Belanda. Wajar jika satrawan Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa Multatuli adalah orang pertama yang berupaya membunuh kolonialisme.


Di Belanda, negeri di mana Multatuli lahir, punya banyak cara untuk mengenang tokoh yang dibenum sebagai peletak tonggak pertama kesusasteraan Belanda modern itu. Pada Maret dan November setiap tahunnya, selalu ada pertemuan yang diselenggarakan Multatuli Genootschap, perkumpulan Multatuli. Perkumpulan ini juga mengelola sebuah museum di Amsterdam, rumah di mana Multatuli dilahirkan pada 2 Maret 1820.


Di Indonesia, Multatuli tak banyak dikenal. Berbeda dengan anak sekolah di negeri-negeri Eropa yang membaca Max Havelaar, karya Multatuli yang membela rakyat bumiputera dari penindasan kolonial itu justru bukan bacaan wajib di sini. Film Max Havelaar yang pernah dibuat pada 1976 sempat dilarang di Indonesia karena dianggap mempermalukan keluarga bupati, penguasa pribumi musuh Multatuli. Lebih-lebih, dianggap tak nasionalis karena menempatkan Multatuli yang orang Belanda sebagai pahlawan ketimbang musuh sebagaimana yang diajarkan di dalam pelajaran sejarah.


Tapi pendulum ingatan kini mulai bergeser. Winnie Sorgdrager, ketua Perkumpulan Multatuli mengatakan bahwa dia dan kawan-kawannya bekerja keras agar rumah kelahiran Multatuli di Amsterdam tetap bisa berfungsi sebagai museum. Pemerintah Belanda mencabut subsidi atas banyak hal di bidang sejarah dan kebudayaan, termasuk mengurangi jatah membiayai museum. Itu berlangsung semenjak partai kanan macam Partai voor Vrijheid, partainya Geerts Wilder turut berkuasa di Belanda sejak 2012 lalu.


Sementara itu di Lebak, Banten, pemerintah setempat telah membangun sebuah museum yang menggunakan nama Multatuli. Perlahan cara pandang terhadap sejarah mulai beranjak lebih baik. Pemahaman atas masa lalu bangsa ini, terutama di masa kolonial, memang harus beranjak dari cara berpikir yang hitam dan putih, apalagi bila merujuk kepada warna kulit: tak selamanya penindas berkulit putih dan mereka yang ditindas adalah berkulit sawo matang.


Usaha untuk membebaskan diri dari segala macam bentuk penindasan menjadi kewajiban bagi mereka yang terpanggil menjalankan tugasnya sebagai manusia. Persis seperti kata Multatuli, “Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia”. Maka mengingat Multatuli adalah mengenang kelam penindasan manusia atas manusia lainnya sekaligus juga mengusung cita-cita pembebasan.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan penulisan ulang sejarah Indonesia menjadi isu yang disoroti Amnesty International Indonesia dalam rapor merah HAM pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan penulisan ulang sejarah Indonesia menjadi isu yang disoroti Amnesty International Indonesia dalam rapor merah HAM pemerintahan Prabowo-Gibran.
Meniti jalan sepakbola dengan sepatu bekas dari tetangga. Berkali-kali memecahkan rekor transfer hingga jadi kunci trio Trinitas United.
Meniti jalan sepakbola dengan sepatu bekas dari tetangga. Berkali-kali memecahkan rekor transfer hingga jadi kunci trio Trinitas United.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Tak hanya diperebutkan para pesepakbola, trofi Piala Dunia juga diincar Nazi dan pencuri. Trofi pertama dilebur jadi emas batangan.
Tak hanya diperebutkan para pesepakbola, trofi Piala Dunia juga diincar Nazi dan pencuri. Trofi pertama dilebur jadi emas batangan.
Kalau terjadi sebuah kekerasan massal sampai memakan waktu berbulan-bulan, meliputi wilayah yang besar, biasanya negara ikut campur.
Kalau terjadi sebuah kekerasan massal sampai memakan waktu berbulan-bulan, meliputi wilayah yang besar, biasanya negara ikut campur.
Sebagaimana Hendra/Ahsan, Christian Hadinata juara dunia tanpa disangka plus menorehkan rekor.
Sebagaimana Hendra/Ahsan, Christian Hadinata juara dunia tanpa disangka plus menorehkan rekor.
transparant.png
bottom of page