top of page

Nazar Cukur Gundul dalam Sejarah

Pangeran Diponegoro bernazar gundul jika meraih kemenangan dalam peperangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Aru Palakka (kiri) dan Diponegoro (kanan). (KITLV).

25 Jul 2014
2 menit membaca

Diperbarui: 13 Agu

SETELAH Joko Widodo dan Jusuf Kalla dinyatakan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019 oleh Komisi Pemilihan Umum, para pendukungnya seperti Nusron Wahid, ketua Gerakan Pemuda Ansor, dan sejumlah anggotanya menunaikan nazar menggunduli kepala.


Di masa lalu, menurut Anthony Reid, laki-laki dan perempuan Asia Tenggara menghargai rambutnya seperti mencintai kepalanya. Rambut merupakan suatu lambang dan petunjuk diri yang menentukan. Tak heran jika hingga kurun niaga (abad ke-17), laki-laki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin.


“Oleh karena itu, memotong rambut lebih merupakan pengorbanan,” tulis Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page