top of page

Obrolan Ringan Noerdin Pandji dengan Tentara Belanda

Hadir ketika gencatan senjata RI-Belanda di Lampung Utara, Noerdin Pandji sempat berbincang dengan beberapa orang Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Noerdin Pandji (Ilustrasi: Awaluddin Yusuf/Historia)

25 Mei 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 23 Jun

DI SEKITAR Lampung Utara, Noerdin Pandji harus repot pada akhir 1949 karena adanya gencatan senjata. Dia adalah komandan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Front Utara Lampung. Kala itu, Mayor Noerdin Pandji sudah turun pangkat menjadi kapten.


Di sebuah kampung, Noerdin bertemu beberapa anggota Koninklijk Landmacht (KL). Tembak-menembak tak ada lagi. Anak-anak kecil bahkan berani bermain di bawah kolong jembatan yang dijaga serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) sambil duduk-duduk di sebuah kuris reyot. Noerdin kemudian bertemu seorang kopral.


 “Saya tidak pernah berpikir akan menjadi tentara,” kata Noerdin.


 "Aku juga tidak," aku kopral KL bule itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page