Diperbarui: 23 Jun
DI SEKITAR Lampung Utara, Noerdin Pandji harus repot pada akhir 1949 karena adanya gencatan senjata. Dia adalah komandan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Front Utara Lampung. Kala itu, Mayor Noerdin Pandji sudah turun pangkat menjadi kapten.
Di sebuah kampung, Noerdin bertemu beberapa anggota Koninklijk Landmacht (KL). Tembak-menembak tak ada lagi. Anak-anak kecil bahkan berani bermain di bawah kolong jembatan yang dijaga serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) sambil duduk-duduk di sebuah kuris reyot. Noerdin kemudian bertemu seorang kopral.
“Saya tidak pernah berpikir akan menjadi tentara,” kata Noerdin.
"Aku juga tidak," aku kopral KL bule itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












