- 26 Apr 2018
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
KOTA Sampit dibekap mendung senja itu. Air Sungai Mentaya berwarna kecoklat-coklatan, tanda hujan sudah mulai turun di hulu. Beberapa bocah yang sedang berenang segera merapat ke pinggir. Di Pelabuhan Sampit, orang-orang yang tengah berniaga masih saja ramai. Sekelompok pedagang nampak masih asyik beradu harga dengan para pembelinya. Mereka sebagian besar adalah orang Tionghoa.
Menurut Wahyudi Kaspul Anwar, orang-orang Tionghoa sudah ada di Sampit sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan kata salah satu tokoh masyarakat kota yang masuk dalam wilayah provinsi Kalimantan Tengah tersebut, istilah “sampit” sendiri sejatinya berasal dari kata “sam” dan “it” yang bermakna angka “31”. Itu merujuk kepada 31 perantau Tionghoa asal Hokian (Fujian) yang kali pertama datang ke Sampit.
“Mereka datang ke sini tadinya hanya untuk sekadar mencari penghidupan yang lebih baik, namun malah akhirnya membuat loji sendiri,”ungkap mantan Bupati Kotawaringin Timur itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















