top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Orang Jawa yang Bertakhta di Sumatra

Balaputradewa lahir di Jawa tapi bertakhta di Sumatra.

Oleh :
Historia
14 Mei 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Prasasti Nalanda

  • 15 Mei 2018
  • 3 menit membaca

SEKIRA pertengahan abad 10, Dewapaladewa, Raja Benggala di India, menerbitkan Prasasti Nalanda. Isinya tentang permintaan Raja Sriwijaya Balaputradewa dari Suwarnadwipa, nama kuno Sumatra, kepada Dewapaladewa untuk mendirikan vihara di Nalanda.


Menurut Prasasti Nalanda, ayah Balaputradewa adalah raja Jawa dari trah Sailendra bernama Samaragawira, putra dari tokoh yang berjuluk Wirawairimathana (Pembunuh Musuh Perwira). Ibunya adalah Putri Tara dari trah Somawangsa, putri Dharmasetu.


“Soma ini wangsa di Sumatra, kalau di Jawa ada Sailendra,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, kepada .


Karenanya, kata Bambang, tak heran kalau Balaputradewa punya hak bertakhta di Sumatra. Dia hanya kembali ke asal ibunya yang memang orang Sumatra.


Pernyataan dalam Prasasti Nalanda seakan menjelaskan hubungan antara Jawa dan Sumatra. Namun, sebenarnya silsilah Balaputradewa, baik dari pihak ibu maupun ayah masih memunculkan beragam teori.


Beberapa ahli, seperti N.J. Krom, F.D.K. Bosch, dan De Casparis, meyakini bahwa sebelum Balaputradewa, kakeknya, Dharmasetu, juga raja Sriwijaya.


Namun, filolog dan sejarawan Slamet Muljana tak sependapat. “De Casparis masih beranggapan Dharmasetu, kakek Balaputradewa adalah raja Sriwijaya, tapi tak ada buktinya,” tegas Slamet dalam Sriwijaya.


Slamet lebih yakin kalau Dharmasetu adalah tokoh yang diberikan tugas untuk menjaga bangunan suci di Jawa. Artinya, Dharmasetu berasal dari Jawa. Pasalnya, namanya muncul dalam Prasasti Kelurak (782) yang ditemukan di Desa Kelurak, dekat Pecandian Prambanan. Prasasti itu mengisahkan pendirian bangunan suci bagi arca Manjusri atas daulat Sri Sanggrama Dhananjaya.  


“Karena kedua nama ini ada bersama-sama dalam Prasasti Kelurak, maka saya menolak anggapan kalau Dharmasetu adalah raja Sriwijaya,” kata Slamet.


Slamet menerangkan bahwa Dharmasetu dan Sri Sanggrama Dhananjaya atau Rakai Panunggalan, raja ketiga Mataram, akhirnya besanan. Ini dilihat dari kesamaan julukan, Pembunuh Musuh Perwira, yang muncul dalam Prasasti Kelurak dan Ligor B yang sezaman, serta dalam Prasasti Nalanda.


Dengan begitu, kira-kira terjawab soal asal-usul ayah dan ibu Balaputradewa. Namun, pertanyaan bagaimana Balaputradewa bisa jadi raja di Sumatra, belum sepenuhnya jelas.


Di Jawa, Bambang menerangkan, nama Balaputradewa muncul pula dalam Prasasti Karang Tengah (824). Dari sini ada petunjuk kalau sebelum ke Sumatra, dia sempat berebut takhta dan kalah dari iparnya, Rakai Pikatan yang membela hak takhta istrinya, Pramodawardhani, sang putri mahkota.


Namun, lagi-lagi Slamet Muljana berbeda pandangan. Menurutnya, Balaputradewa lebih mungkin merupakan paman dari Pramodawardhani. Dia adalah putra bungsu Samaragawira atau adik Raja Samarattungga. Nama Balaputradewa menunjukkan itu: wala (ekor) dan putra (anak).


Slamet mengatakan berdasarkan petunjuk di Prasasti Karang Tengah, Pramodawardhani adalah putri satu-satunya Raja Samarattungga. Maka, tak mungkin Balaputradewa menjadi saudaranya atau ipar Rakai Pikatan.


Kendati demikian, Slamet tak menampik kemungkinan terjadinya peperangan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Pemicunya karena Balaputradewa tahu Samarattungga tak berputra, maka dia sebagai adik laki-lakinya merasa lebih berhak sebagai penerus.


Sementara itu, Sriwijaya sudah menjadi daerah bawahan Jawa berkat Rakai Panunggalan, kakek mereka. Nama sang kakek muncul dalam Prasasti Ligor B yang ditemukan di Ligor (kini, Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan), salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya. Karenanya setelah kalah dari Rakai Pikatan, Balaputradewa pun menyingkir ke Sumatra.


“Negeri yang harus diwarisinya dari kakeknya, Dharmasetu dan dari ayahnya, Samaragawira terampas semua oleh Rakai Pikatan, yang menurut adat tak berhak untuk menguasainya,” kata Slamet.


Dengan begitu, menurut Slamet, melalui Prasasti Nalanda sesungguhnya Balaputradewa tengah menyerukan haknya sebagai penerus trah Sailendra atas takhta Mataram.


Menurut George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu Buddha, Balaputradewa kemungkinan besar adalah raja Sailendra pertama di Sriwijaya. Setelah naik takhta, dia dan keturunannya terus memperkuat negeri barunya itu hingga dikenal oleh negara-negara di kawasan regional hingga Tiongkok dan India.


“Jadi, ya akhirnya Sumatra dan Jawa itu masih satu keluarga, tapi beda kerajaan, tak bisa dibilang kemudian Jawa bagian Sriwijaya dan Sriwijaya bagian Jawa,” tegas Bambang.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page