top of page

Pahit Manis Kisah Ahli Waris

Partai-partai nasionalis bangkit setelah rezim Soeharto jatuh. Sebagian mengindentikan diri sebagai ahli waris PNI. Ada yang bertahan, banyak pula yang bertumbangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Megawati Soekarnoputri saat memimpin pertemuan PDI Perjuangan. (pdiperjuangan.com).

9 Okt 2024
7 menit membaca

Diperbarui: 12 Feb

SETELAH buka puasa, pertengahan Juni 2016 lalu, Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDI Perjuangan, menerima majalah Historia, di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Wawancara yang berlangsung hingga jam sebelas malam itu membahas beragam hal, terutama tentang Sukarno dan PNI.


Megawati terjun ke dunia politik pada 1986. Sebelum bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Megawati mengaku sempat diajak teman-temannya masuk Golkar dan diiming-imingi posisi penting. Namun, dia menolak dan memilih untuk bergabung dengan PDI, partai hasil fusi Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), pada 1973.  


“Untuk apa masuk Golkar, bapakku yang mendirikan PNI,” kata Megawati kepada Historia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page