top of page

Paradoks Serat Centhini

Berbagai hikayat dan tradisi menunjukkan toleransi terhadap keberagaman seksualitas, tetapi cenderung respresif terhadap perempuan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Serat Centhini.

8 Jun 2010
3 menit membaca

Diperbarui: 9 Des 2025

DALAM sejarah Nusantara pra-kolonial, seksualitas bukan sesuatu yang tabu. Pun keragaman seksualitas. Banyak dokumen sejarah dan tradisi masa lampau menggambarkan keragaman ini dengan gamblang. Salah satunya dalam salah satu karya sastra Jawa terkemuka Serat Centhini.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page