- 17 Feb 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 9 Feb
HAJI Sidin, 88 tahun, masih ingat kejadian itu. Dengan matanya sendiri, ia menyaksikan dari arah Tambun tentara Belanda merangsek masuk Karawang pada Juli 1947. Kendati sempat dihalau pasukan Republik, gelombang serangan tersebut tak tertahankan jua.
“Mereka berhasil menyeberangi jembatan Kedunggedeh yang melintasi Sungai Citarum terus menusuk jantung Karawang,” ujar Sidin yang kala itu jadi pedagang beras.
Yang tak terlupakan bagi Sidin, iring-iringan konvoi militer Belanda itu didahului barisan prajurit bumiputra. Mereka terdiri dari anak muda Betawi dan Sunda. “Ada di antaranya saya kenal sebagai centeng dan jawara yang biasa mangkal di Pasar Tambun,“ ujar Sidin.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















