- 7 Agu 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 Jul
PERBUDAKAN merupakan hal lumrah dalam masyarakat kolonial di masa VOC. Keberadaannya dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, seperti menjadi pelayan, juru lampu, tukang cuci, penjahit hingga juru masak. Tak sedikit pula budak yang dipekerjakan pihak kompeni untuk menggali kanal, membangun jalan, mendirikan gedung-gedung baru hingga menjadi tukang besi dan kayu di bawah pengawasan ahli pertukangan dari Eropa pada bengkel di kastil Batavia.
Pentingnya peran budak tak hanya terlihat dari pekerjaan mereka, tetapi budak juga menjadi tolok ukur kekayaan seseorang, khususnya penduduk Eropa. Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut sebagian besar budak milik orang Eropa umumnya dijadikan sebagai pengiring untuk memamerkan kekayaan. “Orang yang paling kaya dapat memiliki seratus budak atau lebih,” sebut Susan.
Kondisi itu membuat budak menjadi komoditas yang banyak dicari oleh penduduk di wilayah koloni. Iklan penjualan budak atau informasi mengenai budak yang akan dilelang tak sulit ditemukan. Para budak dilelang dengan harga bervariasi tergantung pasaran. Namun, menurut Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, ada sejumlah kriteria yangmenjadi acuan dalam menentukan harga seorang budak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















