- 31 Agu 2017
- 3 menit membaca
Diperbarui: 2 jam yang lalu
DENGAN rasa sedih dan letih rakyat Sumodiningratan menggotong mayat Panglima Pasukan Yogyakarta ke pemakaman keluarga Sumodiningratan. Raden Tumenggung Sumodiningrat tewas dikeroyok pasukan gabungan serdadu Inggris dan Legiun Mangkunegaran pada penyerbuan Inggris ke keraton 20 Juni 1812.
"Koyo kewan neng wono mboten ingkang gadah wono". Begitu perumpamaan yang dirasakan pengikut Sumodiningrat sebagaimana yang dikutip sejarawan Inggris Peter Carey dari salah satu surat yang dirampas Inggris. Mereka bingung bagaikan binatang hutan yang tak lagi memiliki hutannya.
Dalam Babad Bedhah ing Ngayogyokarta karya Pangeran Panular, menjelang subuh, Pangeran Prangwedono (Mangkunegoro II) dan pasukan Legiun Mangkunegaran disertai Sekretaris Keresidenan John Deans dan pasukan Inggrisnya mendatangi kediaman Sumodiningrat. Gabungan kedua pasukan itu mengepung dan menghujani rumah Sumodiningrat dengan peluru meriam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















