top of page

Pemerintah Kolonial Libatkan Masyarakat dalam Kawasan Konservasi

Pelibatan masyarakat dalam kawasan konservasi. Tak hanya untuk tujuan ekonomis, tapi juga keseimbangan alam

loading_historia_white.gif
transparant.png

Nelayan di pantai Sumatra memanfaatkan kawasan konservasi. (123rf.com).

7 Nov 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 16 Apr

PENUTUPAN Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melanjutkan pembangunan Taman Wisata ala Jurassic Park mengundang pro dan kontra. Pegiat lingkungan menilai pembangunan mengancam habitat komodo dalam kawasan konservasi dan mengabaikan keterlibatan masyarakat. Tapi pemerintah mengatakan bahwa pembangunan sudah mempertimbangkan dua hal tersebut.


Pelibatan masyarakat dalam kawasan konservasi sejatinya bukan hal baru. Sejarah konservasi alam masa Hindia Belanda telah menunjukkan beberapa kecenderungan pemerintah kolonial untuk melibatkan peran masyarakat dalam konservasi.


“Sejak pertama kali pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan tentang kehutanan, baik hutan lindung, cagar alam maupun suaka margasatwa, penduduk setempat telah menerima perhatian untuk dipertimbangkan,” catat Harto Juwono dan Gunung Sinaga dalam Sejarah Konservasi Alam di Indonesia (Periode 1865–1950).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page