top of page

Pemuda Aceh Raih Sartono Kartodirdjo Award

Masykur Syafruddin, pendiri Museum Pedir di Aceh, menerima Sartono Kartodirdjo Award atas jasanya menyelamatkan sumber sejarah.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 4 Des 2019
  • 2 menit membaca

Masykur Syafruddin, pemuda 22 tahun dari Pidie, Aceh, mendapat Sartono Kartodirjo Award dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebuah penghargaan untuk mengapresiasi kerja-kerja sejarah oleh individu maupun komunitas. Penghargaan ini diberikan bersamaan dengan rangkaian Peringatan Hari Sejarah 2019 bertema "Membayangkan Indonesia di Hari Depan" yang berlangsung pada 4-6 Desember 2019, di Jakarta.


Masykur lahir di Blang Glong, Pidie pada 5 Juli 1997. Sejak usia 14 tahun, ia sudah tertarik mengumpulkan koin-koin kuno yang banyak ditemukan di sekitar tempat tinggalnya. Kegemaran itu kemudian menjadi lebih serius ketika pada 2014 ia mendengar berita mengenai banyaknya naskah kuno yang dijual ke luar negeri.


“Kan timbul pertanyaan, kenapa ini bisa di luar negeri? Okelah kalau di Belanda karena rampasan perang pada masa kolonial. Tapi yang di Malaysia segala macam kenapa bisa di luar negeri? Kan itu asli kebudayaan kita. Nah, itu yang menjadi tanggung jawab kita, tanggung jawab saya untuk menyelamatkan itu agar tidak dijual ke luar negeri,” ungkap Masykur kepada Historia.


Sejak itu, Masykur mulai mencari dan mengumpulkan naskah-naskah dan benda-benda bersejarah yang hendak dijual ke luar negeri. Ia lalu mendirikan Museum Pedir tahun itu juga.

“Awalnya kita melacak barang-barang yang sudah dibeli oleh agen barang antik yang akan dijual ke luar negeri. Jadi sebelum dijual ke luar, kita beli,” sebut Masykur.


Tak sampai di situ, Museum Pedir kemudian juga melacak benda-benda bersejarah dari Aceh yang sudah dijual ke luar negeri.


“Kita beli lagi, bawa pulang ke Aceh. Kita juga lacak semua di media-media, kemudian di toko-toko antik,” kata mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh ini.


Setelah dibawa kembali ke Aceh, naskah-naskah kuno itu didigitalisasi dan dipublikasikan lagi. Selain itu, kini Masykur dan para relawan Pedir Museum tidak hanya membeli benda-benda yang akan dan sudah dijual ke luar negeri. Mereka juga mencari dan mengumpulkan benda-benda bernilai sejarah yang tersebar di masyarakat dan perlu mendapat perawatan yang baik.


“Tidak mesti kita beli semua. Ada masyarakat yang tahu tujuan kita menyelamatkan itu. Dihibahkan juga ada. Ketika sudah dijual ke luar, sulit sekali untuk memulangkan itu. Beda dengan yang ada di masyarakat. Misalnya koleksi-koleksi mata uang, perhiasan, senjata segala macam itu, ada juga memang masyarakat yang memberikan,” terang Masykur.


Pedir Museum selama ini juga melakukan pembiayaan secara mandiri. Mulai dari pembiayaan, perawatan, pencarian koleksi, hingga keperluan penelitian.


“Semua kita biayai dengan uang pribadi dan sumbangan dari masyarakat. Kita belum yayasan, belum mendapatkan biaya dari pemerintah,” sebut Masykur.


Beberapa kali Masykur telah mengajukan proposal kepada pemerintah daerah. Namun, menurut Masykur, prosesnya begitu lamban dan pihak pemerintah daerah dirasa memang kurang perhatian.


“Kita nggak menunggu ada uang dulu, kita langsung gerak saja,” ungkapnya.


Saat ini, Museum Pedir memiliki 2.870 koleksi. 462 di antaranya merupakan koleksi naskah manuskrip. Sementara itu, mata uang kuno dari abad ke-12 hingga 19 mencapai 1.000 koleksi. Selain itu, Museum Pedir juga menyimpan perhiasan, senjata, arsip kesultanan, kain dan tekstil, benda-benda etnografi dan arkeologi, hingga temuan-temuan fosil.


Museum Pedir saat ini masih menggunakan rumah orang tua Masykur di Pidie Jaya yang ke depan akan dibangun menjadi museum. Meski demikian, Museum Pedir telah memiliki cabang di Banda Aceh. Cabang museum di Banda Aceh didirikan untuk memudahkan akses para peneliti dan tamu dari luar negeri.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
transparant.png
bottom of page