- 6 Sep 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 Apr
DI ANTARA para kadet Sekolah Penerbang Maguwo, Mulyono terbilang yang menonjol dari kawan-kawan seangkatannya. Dia gigih berlatih untuk bisa menerbangkan pesawat. Pemuda Mulyono juga dikenal mempunyai pembawaan tenang, baik hati, terampil, dan ramah terhadap orang lain. Sebelum masuk sekolah penerbang, Mulyono merupakan masinis keretaapi di Madiun. Karena kebaikan hatinya, kawan-kawan kadet suka berkelakar terhadap Mulyono.
“Mukanya yang hitam itu hangus akibat selalu mencium asap batubara kereta api,” demikian kawan-kawan Mulyono meledeknya seperti terkisah dalam Sejarah Angkatan Udara Indonesia 1950-1959.
Meski masih kadet dengan nol jam terbang, Mulyono siap tempur kala melancarkan serangan udara balasan ke basis militer Belanda setelah agresi pertama. Pimpinan pelaksana serangan Komodor Muda Halim Perdanakusuma memerintahkan beberapa kadet menyerang Belanda di beberapa kota di Jawa Tengah. Kadet Sutardjo Sigit mendapat tugas menyerang Salatiga, Mulyono menyerang Semarang, dan Suharnoko Harbani menyerang Ambarawa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















