- 3 Feb 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 Agu
SETELAH Belanda menyerah kepada Jepang, siswa-siswa kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya dan Geneeskundige Hogeschool te Batavia (GHS) melanjutkan pendidikan di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.
Di antara mantan siswa NIAS yang belajar di Ika Daigaku terdapat Frans Pattiasina, Piet Mamahit, dan Oscar Eduard Engelen. Frans Pattiasina lahir pada 19 Februari 1920 dari orang tua asal Ambon yang tinggal di Makassar. Piet Mamahit berdarah Minahasa tapi kelahiran Denpasar, Bali pada 10 Oktober 1920. Sementara Oscar Engelen lahir di Kema, Minahasa pada 12 Maret 1922.
Frans Pattiasina, Oscar Engelen, dan Piet Mamahit terlibat dalam pergerakan pemuda kelompok Asrama Prapatan 10, Jakarta. Ketika tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, mereka masih berstatus mahasiswa dan belum menjadi dokter. Seperti banyak pemuda di Jakarta, mereka mendukung negara baru Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















