top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Perayaan Ulang Tahun Bung Karno pada Masa Revolusi

Kemeriahan peringatan hari lahir seorang presiden dari Republik muda yang sedang mengalami masa pancaroba kekuasaan.

6 Jun 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Presiden Sukarno.

SELALU ada perayaan setiap kali 6 Juni tiba, hari kelahiran Ir. Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia. Beragam bentuk acaranya, mulai dari ucapan selamat hingga penerbitan tulisan mengenang kelahiran sang proklamator kemerdekaan. Pada 1965, hari ulang tahun (HUT) Sukarno dirayakan bersamaan dengan Hari Kanak-Kanak Nasional yang meriah di Taman Surapati, Jakarta. Di masa selanjutnya, beberapa buku diterbitkan guna merayakan ulang tahun Sukarno, seperti buku kumpulan tulisan yang mengupas pemikiran Sukarno, 80 Tahun Bung Karno, yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan tahun 1981 dan buku yang berisi berbagai tulisan berisi kenangan pribadi dengan Sukarno maupun ulasan tentang gagasan dan kiprah Sukarno dari orang-orang di sekitar Sukarno dalam rangka memperingati seabad Sukarno, Bung Karno, Bapakku, Guruku, Sahabatku, Pemimpinku: Kenangan 100 Tahun Bung Karno (2001).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page