top of page

Percampuran di Balik Tembok Rumah

Hubungan tuan-gundik dan majikan-babu tak melulu berisi kisah nestapa. Agen percampuran budaya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Seorang perempuan kulit putih mengenakan setelah kebaya dan tukang buah di Batavia abad ke-19. Sumber: Kehidupan Sosial di Batavia.

13 Nov 2018
3 menit membaca

WILLEM Walraven, Belanda totok yang bekerja sebagai wartawan dan penulis di Hindia Belanda, akhirnya memutuskan hidup bersama gundiknya, Nyai Itih. Keputusan itu diambilnya setelah sekian lama hidup bersama dalam hubungan tuan-gundik dan menyadari bahwa Itih satu-satunya perempuan yang dia cintai.


Hubungan itu melahirkan anak yang diasuh sendiri oleh Itih. Walraven dalam surat kepada saudaranya di Belanda, Jaap, menceritakan bagaimana anak-anaknya memliki selera makan yang sama dengan Itih. Anak-anak Walraven, yang berdarah campuran (mestizo), menganggap aneh masakan Belanda.


Ketika waktu makan tiba, para pelayan menyiapkan masakan Belanda untuk Walraven dan keluarga. Tapi begitu selesai makan bersama, Itih dan anak-anak makan nasi di dapur. “Dan itulah makanan sebenarnya bagi mereka,” tulis Walraven seperti dikutip Reggie Baay dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.


Nyai dalam hubungan pergundikan tetap memegang budaya pribuminya, seperti mengunyah sirih dan mengenakan kebaya. Kebiasaan itu nantinya diturunkan kepada anak-anak mereka yang menjadi salah satu jalur percampuran budaya Eropa dan Nusantara.


Hal semacam ini direkam oleh Lord Minto dalam surat kepada istrinya. Minto menulis, di Batavia banyak lelaki Belanda yang hidup dengan perempuan pribumi dan memiliki anak gadis yang punya kebudayaan campuran. Perempuan mestizo dari keluarga kelas atas ini kelak menjadi istri dan perempuan yang punya derajat serta jabatan tinggi di Jawa yang membuat Minto merasa agak resah.


Selain lewat para nyai, percampuran budaya dari dalam rumah juga terjadi lewat hubungan majikan dan pembantu rumahnya. Hal inilah yang menjadi jalur percampuran budaya meskipun si tuan menikah dengan perempuan Belanda totok. Segala urusan rumah tangga tetap bergaya campuran karena semua pelayan mereka adalah orang pribumi. Dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis karya Bernard Dorleans, disebutkan keluarga-keluarga kaya Eropa memiliki seorang koki yang dapat memasak hidangan Eropa dan Nusantara. Pada abad ke-19, muncul Rijsttafel yang menjadi masakan populer sehari-hari orang Eropa di Hindia Belanda.


Percampuran budaya juga merambah gaya busana. Pelancong dari Eropa menggambarkan gaya pakaian perempuan Belanda kelas atas dipengaruhi oleh pengasuh atau ibu pribumi mereka. Para perempuan muda mengenakan kebaya dan sarung setinggi lutut ketika berada di dalam rumah. Sementara, beberapa lelaki Belanda memakai piyama batik untuk tidur. Gaya berpakaian ini menjadi bagian adaptasi terhadap iklim tropis Nusantara.


Namun, para perempun itu enggan melepaskan prestise kulit putih mereka. Ketika keluar rumah mereka tetap mengenakan atribut Eropa. Beberapa perempuan kulit putih mengenakan pakaian modifikasi sebagai jalan tengah menghadapi iklim tropis dan mempertahankan atribut Eropa mereka. Sarung digunakan menggantikan rok dalam kaku (petitecoat), serta kebaya sebagai pengganti kemeja dalam perempuan (chemise).


“Keanehan yang terlihat dalam masyarakat Indies adalah perempuan Eropa yang mengenakan pakaian Indonesia, berbicara bahasa Melayu, dan mengonsumsi makanan Asia. Tetapi perempuan ini menikah dengan lelaki yang menolak kebudayaan Asia untuk mandi lebih sering atau megubah cara berpakaian mereka,” tulis Jean Gerlman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia.


Ketika datang ke Hindia, Inggris berusaha menghilangkan pengaruh Nusantara pada gaya hidup orang Belanda. Orang-orang Inggris menolak keras pencampuran budaya dan menganggapnya mengotori budaya murni Eropa. Mereka merasa kaget dengan perempuan yang lalu-lalang hanya mengenakan kebaya tipis. Bagi orang Inggris, para perempuan keluar rumah hanya mengenakan pakaian dalam sangat tak sopan.


Akan tetapi, orang-orang Belanda yang telah menjalani kehidupan rumah tangga di Batavia sudah terbiasa dengan kebiasaan negeri tropis. Beberapa menjalin hubungan baik antara nyonya dan pelayan Jawa maupun tuan-gundik. Di dalam hubungan ini terjadi timbal-balik. Nyonya mengenalkan babu mereka akan makanan kaleng, alat jahit, dan masakan Eropa. Sementara, para babu mengenalkan pola hidup tropis dengan mandi dua kali sehari dan tidur siang.


“Wanita ras campur, yang menikah dan memimpin rumah tangga imigran Belanda totok, telah memainkan peran utama dalam proses akulturasi ini sejak abad ketujuh belas,” tulis Elsbeth Locher-Scholten dalam “Orientalism And The Rhetoric Of The Family”.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Polisi menyebut penyebab utama kecelakaan terletak pada perilaku dan kondisi jiwa pengemudi.
Polisi menyebut penyebab utama kecelakaan terletak pada perilaku dan kondisi jiwa pengemudi.
Dari waktu ke waktu wacana memindahkan ibukota negara dibahas, bahkan pernah pula direncanakan.
Dari waktu ke waktu wacana memindahkan ibukota negara dibahas, bahkan pernah pula direncanakan.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Dewi Hāritī terpahat pada ambang pintu masuk Candi Banyunibo. Siapapun yang memasukinya mendapat karunia dan kesuburan.
Dewi Hāritī terpahat pada ambang pintu masuk Candi Banyunibo. Siapapun yang memasukinya mendapat karunia dan kesuburan.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Bergeming di bawah hujan salju, ribuan orang di Manchester dan Munich haru biru mengenang 60 tahun tragedi yang menimpa MU.
Bergeming di bawah hujan salju, ribuan orang di Manchester dan Munich haru biru mengenang 60 tahun tragedi yang menimpa MU.
transparant.png
bottom of page