- 26 Jun 2018
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Mar
AWAL Agustus 1948. Menjelang datangnya waktu lebaran, para prajurit Divisi Siliwangi dari Batalyon Rukman mulai resah. Alih-alih mendapat gaji, mereka tak melihat tanda-tanda pemerintah akan memberikan tunjangan hari raya. Sementara itu istri dan anak di asrama penampungan mulai merengek-rengek.
“Itu menjadikan kami tak fokus lagi menjalankan tugas sebagai tentara,” ungkap Soempena (92), mantan kopral di Batalyon Rukman.
Sesampainya di wilayah Jawa Tengah, kondisi ekonomi para prajurit Siliwangi dan keluarga yang turut berangkat, hampir bisa dikatakan sehari-harinya berlangsung morat-marit. Jangankan hidup layak, untuk sekadar tidur pun mereka harus berdesak-desakan di asrama-asrama sempit dan kotor.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















