top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Peter Carey dan Takdir Menemukan Diponegoro

Berawal dari pandangan pertama, sejarawan Inggris ini terpikat kepada Pangeran Diponegoro. Ketekunannya menghasilkan karya agung mengenai sosok paling epik dalam Perang Jawa.

1 Feb 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Peter Carey, sejarawan indonesianis yang secara khusus mendalami tentang Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa. Sumber: KPG/Facebook Peter Carey.

  • 1 Feb 2019
  • 3 menit membaca

PETER Carey barangkali satu-satunya indonesianis yang totalitas meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro. Karya monumentalnya KuasaRamalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011)menjadi rujukan otoritatif bagi siapa saja yang ingin mengetahui sosok paling epik dalam Perang Jawa itu. Siapa nyana, persinggungan Peter Carey dengan Diponegoro justru hanya berawal dari sekilas pandang. Tak pernah terpikirkan sebelumnya.


 “Saya terpana oleh sosok Diponegoro yang agak misterius. Saya ingin mendalami sosok itu sebab saya tak bisa lihat wajahnya,” kata Peter Carey kepada Historia di sela-sela acara peluncuran buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, 30 Januari 2019.


Bermula dari sketsa Diponegoro karya Mayor Francois de Stuers yang termuat dalam bab tulisan sejarawan Belanda terkemuka H.J. de Graaf mengenai Perang Jawa. Sketsa itulah yang disaksikan Peter sekira tahun 1969 saat menempuh studi doktoral kajian Asia Tenggara di Cornell University. Terinsipirasi dengan cara demikian, Peter lantas menjatuhkan pilihan untuk meneliti riwayat hidup Diponegoro sebagai topik disertasinya. Sayang, profesornya di Cornell kurang mengapresiasi.


Peluncuran buku Urip iku Urub : Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey. (Martin Sitompul/Historia).
Peluncuran buku Urip iku Urub : Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey. (Martin Sitompul/Historia).

Peter menyadari, saat itu buku dan litaratur mengenai Diponegoro begitu terbatas. Namun bagi Peter, semacam ada panggilan untuk menelusuri lebih lanjut sisi historis sang pangeran. Dia berkelakar, Diponegoro akan lebih menyukai orang Inggris sebagai penulis biografinya ketimbang orang Belanda.


Keputusan itu membawa Peter kepada petualangan menjejaki memori tentang Diponegoro. Pada 1970, Peter memulai proses pencarian sumber-sumber sejarah. Mulai dari merambah arsip-arsip berbahasa Belanda di Leiden, Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, kitab-kitab babad di perpustakaan Keraton Yogya, hingga napak tilas ke tempat-tempat yang pernah dilalui Diponegoro tatkala menggelorakan perang melawan Belanda. Tak heran bila Peter jadi bule yang mahir berbahasa Jawa dan memahami budayanya.


“Hidup seperti masuk ke laut yang dangkal. Kita masuk tapi kita tidak sadar bawah itu akan betul-betul dalam sekali. Tiba-tiba kita sudah masuk tanpa direncanakan. Itu yang saya katakan sebagai panggilan,” ujar Peter.


Menyinari Historiografi


Pada 1975, Peter Carey merampungkan disertasinya di Oxford University, Inggris. Disertasi itu diberi judul “Pangeran Dipanegara and the Making of the Java War, 1825-30 (Pangeran Diponegoro dan Asal-usul Perang Jawa, 1825-30)” setebal dua jilid. Jilid pertama membahas sejarah Yogya antara 1792-1825. Jilid kedua berupa teks dan terjemahan dalam bahasa Inggris dari Babad Dipanegara versi Surakarta yang kemungkinan ditulis pada awal Perang Jawa. Seorang penguji (informal) Merle Calvin Ricklefs, mengatakan disertasi itu bisa menjadi kajian yang paling penting dalam sejarah modern Indonesia.


Tiga dekade lebih berselang, disertasi Peter akhirnya diterbitkan oleh KITLV. Buku itu diberi judul The Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 (2007), (versi Indonesia: Kuasa Ramalan). Tebalnya hampir seribu halaman.  


“Buku itu segera diakui sebagai karya agung yang luar biasa. Sebuah kontribusi kepada pengertian kita mengenai sejarah Indonesia yang amat penting,” tulis Ricklefs dalam prakata Urib iku Urub.


Pangeran Diponegoro menunggang kuda dan dikelilingi pengikutnya. Sketsa karya Mayor Francois de Stuers ini yang menginspirasi Peter Carey meneliti Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro menunggang kuda dan dikelilingi pengikutnya. Sketsa karya Mayor Francois de Stuers ini yang menginspirasi Peter Carey meneliti Pangeran Diponegoro

Takzim yang senada juga disampaikan cendekiawan politik, Daniel Dhakidae. Menurut Daniel, Peter adalah sejarawan yang melibatkan dirinya dalam konteks sosial kultural dari objek yang ditelitinya. Dalam hal ini adalah Diponegoro. Karya dedikatif Peter Carey ini memberikan sumbangan penting dalam historiografi Indonesia. Dia membuat sejarah itu hidup dan relevan; mengangkat sejarah itu menjadi politik masa kini.  


“(Peter) menghidupkan tokohnya itu dan bertutur mengajak orang tour dari suatu tempat ke tempat lain yang pernah dilewati Pangeran Diponegoro. Memperkenalkan relik, seperti keris dan perlengkapan perang yang berhubungan dengan sang pangeran. Mengajak anak-anak muda untuk berdialog dengan tokoh itu. Itu tentu saja sesuatu yang baru dalam tradisi akademik di Indonesia,”kata Daniel Dhakidae.


Sebagai sejarawan, Peter tak hanya merekam peristiwa masa lalu yang dia kaji secara tekstual. Tapi dia juga membumikan karyanya sedekat mungkin kepada publik. Penelitiannya mengenai Diponegoro dan Perang Jawa bahkan telah diadaptasi menjadi pertunjukan drama hingga film pendek.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page