top of page

Polisi Berat Menjadi Seperti Hoegeng

Keteladanan Kapolri Hoegeng Iman Santoso dianggap terlalu berat dijalani oleh polisi masa kini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Hoegeng Iman Santoso (paling kiri) setelah pelantikan dan serah terima jabatan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pada OKtober 1971. (Wikimedia Commons).

15 Jul 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 14 Jul 2025

HOEGENG Iman Santoso selama menjabat Kapolri (1968–1971) menunjukkan keteladanan yang luar biasa. Rasanya terlalu berat bagi polisi saat ini untuk memenuhi standar keteladanannya.


Sehingga, menurut Aris Santoso, penulis dan pengamat militer, Hoegeng kurang relevan sebagai contoh polisi teladan hari ini. Sebab, hari ini seseorang menjadi polisi untuk mencari kesejahteraan.


“Pengen jadi polisi, itu (mencari) kesejahteraan. Apakah masih relevan keteladanan Pak Hoegeng terhadap generasi sekarang?” kata Aris dalam diskusi bertajuk “Riwayat Hoegeng Kapolri Jujur”, live di Youtube Historia.ID, Kamis, 14 Juli 2022.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page