top of page

Pro-Kontra Gelar Pahlawan Nasional

Setiap tahun pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional. Sekadar kebanggaan?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para Pahlawan Nasional Indonesia. (pustaka.org).

  • 10 Nov 2017
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 4 Jul 2025

TAHUN 2015, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mayor Isman atau akrab dipanggil Mas Isman. Gelar itu memang layak diberikan mengingat Mas Isman, lelaki asal Malang, adalah salah satu tokoh pendiri Tentara Pelajar di masa revolusi.


Namun, tak banyak orang tahu jika Mas Isman menolak dirinya disebut pahlawan. Dia mengatakannya dalam suatu pidato saat merayakan kepergian tentara Belanda di alun-alun kota Malang tahun 1950.


“Jangan sebut kami pahlawan atau kesuma bangsa... Kami bukan pahlawan! Yang menjadi pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami,” ujar Isman.


Pidato Isman dikisahkan kembali oleh budayawan (almarhum) Y.B. Mangunwijaya alias Romo Mangun dalam Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya. Romo Mangun kala itu hadir dalam perayaan itu mewakili Pemuda Katholik. Dia juga mantan anggota Tentara Pelajar.


Bisa jadi para pahlawan yang benar-benar berjuang untuk negeri ini berpikir sama seperti Isman. Tapi banyak orang dan pemerintah daerah justru berlomba-lomba menyodorkan nama untuk dijadikan Pahlawan Nasional. Tak jarang ada kepentingan politik di dalamnya. Termasuk dari penguasa. Pro-kontra pun kerap mewarnai usulan dan penetapan Pahlawan Nasional.

Saat ini, sebanyak 173 tokoh menghiasi album Pahlawan Nasional. Jumlahnya masih akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang.


Sejarawan Rushdy Hoesein menyebut jumlah Pahlawan Nasional mengalami surplus. Sejak lama dia menyarankan agar seleksi diperketat dan melibatkan banyak pihak yang betul-betul kompeten. “Artinya, orang-orang ini tidak hanya sebagai ahli sejarah tapi juga harus paham betul siapa calon tokoh yang diajukan sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.


Menurut Hartono Laras, direktur jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional masih wajar-wajar saja. Soal jumlahnya yang dianggap sebagian orang terlalu banyak menurutnya relatif.


“Kalau melihat posisi negara kita yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah 261 juta penduduk, saya pikir jumlah itu belum seberapa,” ujarnya.


A.B. Kusuma, sejarawan-cum-ahli tata negara dari Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, mengatakan pemberian gelar Pahlawan Nasional masih diperlukan tapi jangan diumbar. Seorang Pahlawan Nasional harus dihasilkan dari suatu riset yang ketat dan komprehensif secara akademis.


“Jangan sampai orang yang sebetulnya berjuang di sekitar wilayahnya saja mau disebut sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.


Persoalannya bukan soal jumlah tapi sosialisasi nilai kepahlawanan mereka kepada masyarakat. Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berkali-kali mengingatkan, dari ratusan nama itu, berapa yang dikenal masyarakat? “Yang ada saja belum sempat disosialisasikan, apa perlu ditambah terus dan dalam jumlah banyak?”


Di luar kontroversi yang kerap muncul terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional, kita sepakat bahwa bangsa yang besar menghargai jasa para pahlawan, yang menyandang gelar Pahlawan Nasional maupun “tanpa tanda jasa”.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Penelitian terbaru arkeolog menemukan bukti emoji tersenyum tertua pada guci berusia 3.700 tahun.
Penelitian terbaru arkeolog menemukan bukti emoji tersenyum tertua pada guci berusia 3.700 tahun.
Sapi yang disucikan tercemar ketika masuk ranah politik menjadi politik dagang sapi.
Sapi yang disucikan tercemar ketika masuk ranah politik menjadi politik dagang sapi.
Sebanyak 66 nyawa melayang dalam tragedi di Stadion Ibrox 50 tahun silam. Akibat pandemi, peringatan 50 tahunnya bakal digelar secara terbatas.
Sebanyak 66 nyawa melayang dalam tragedi di Stadion Ibrox 50 tahun silam. Akibat pandemi, peringatan 50 tahunnya bakal digelar secara terbatas.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
transparant.png
bottom of page