top of page

Proklamasi Kemerdekaan sampai di Banten

Perempuan ini dengan berani menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan merah putih.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih pada 17 Agustus 1945. (IPPHOS).

17 Agu 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 11 Agu

BERITA kekalahan Jepang yang disusul Proklamasi kemerdekaan sampai ke Banten pada 20 Agustus 1945. Berita itu dibawa oleh para pemuda: Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk dan Azis, yang diutus oleh Chairul Saleh, wakil ketua dan sekretaris Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31 Jakarta. Para anggota API diutus ke berbagai daerah termasuk Banten untuk menyebarkan berita proklamasi.


Berita gembira itu terutama disampaikan kepada tokoh Banten yaitu K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun, dan Zulkarnain Surya, serta tokoh pemuda seperti Ali Amangku dan Ajip Dzuhri.


Chairul Saleh juga mengamanatkan agar para tokoh dan pemuda di Serang segera merebut kekuasaan dari Jepang. Maka, Ali Amangku mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sedangkan API Puteri dipimpin oleh Sri Sahuli.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page