top of page

Race, Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Era Nazi

Lintasan kehidupan Jesse Owens yang menampar wajah Hitler dikemas lewat drama biopik. Awas spoiler!

loading_historia_white.gif
transparant.png

Atlet atletik legendaris Afro-Amerika James Cleveland 'Jesse' Owens dalam film "Race" yang diperankan aktor Stephan James. (focusfeatures.com).

18 Des 2020
6 menit membaca

Diperbarui: 22 Apr

SUATU pagi di tahun 1933. Duduk di sebuah ruang tunggu di Ohio State University, Jesse Owens (diperankan Stephan James) sangat gugup. Lututnya tak berhenti bergetar. Jemarinya juga tak bisa diam hingga ketika pelatih atletik, Larry Snyder (Jason Sudeikis), datang menyapanya.


Sebagaimana pemuda kulit hitam yang berhadapan dengan sosok kulit putih di masa itu, Owens tak berani menatap langsung mata sang pelatih. Matanya tetap masih tertuju ke bawah ketika dia sudah berbincang di ruangan. Sikap Owens membuat Snyder memintanya untuk tidak takut menatap mata orang yang jadi lawan bicara.


Dari berkas-berkas berisi catatan prestasi yang didapat dari pelatih atletik Owens di SMA, Snyder paham bahwa pemuda kulit hitam di hadapannya punya bakat alami. Namun, kata Snyder, bakat alami takkan cukup untuk membuat Owens menjadi atlet lari juara. Selain meminta Owens untuk mau berlatih keras, Snyder berharap Owens tahan banting terhadap beragam hal diskriminatif. Pasalnya yang akan dihadapi Owens bukan hanya para pesaingnya di trek lari, melainkan juga khalayak yang bakal mencacinya begitu tajam.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page