top of page

Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat

Perjuangan merebut Uber Cup yang sarat keringat dan air mata hanya diapresiasi dengan kata-kata dan lembaran kain.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 8 Jun 2018
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 30 Jul 2025

JELANG perang di pentas Thomas dan Uber Cup 2018 lalu, tim Indonesia sudah diguyur bonus rupiah. Pada 8 Mei 2018, Li-Ning selaku sponsor mengguyur Rp500 juta, Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memberi santunan asuransi kepada masing-masing anggota tim putra dan putri Rp500 juta.


Andai mereka menang di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018, mereka bakal makin “kuyup".  Sayang, bonus tak berbanding lurus dengan prestasi. Tim Thomas Indonesia yang dikapteni Hendra Setiawan, gugur di semifinal. Tim Uber yang dikapteni Greysia Polii bahkan lebih parah, hanya bisa sampai perempatfinal.


Alih-alih menyadari kegagalan itu, Manajer tim Susi Susanti malah menyatakan hasil tim Uber sudah sesuai target. Perbulutangkisan putri Indonesia jelas mundur. Banyaknya bonus justru membuat prestasi bulutangkis putri Indonesia melempem.


Bak bumi dan langit jika dibandingkan tim putri Indonesia yang berjuang di Uber Cup 1975, 5-6 Juni 1975 di Jakarta. Tanpa iming-iming bonus barang sebenggol, mereka main seolah tak mengenal kata “kalah”. “Begitulah bedanya pemain dulu dan sekarang. Dari segi fasilitasnya juga sekarang jauh lebih bagus,” ujar Regina Masli, yang ikut memperkuat tim Uber 1975, kepada Historia.  


Regina kala itu berpasangan dengan kapten tim Minarni Soedarjanto di nomor ganda. Di final hari kedua kontra Jepang, 6 Juni 1975, Regina/Minarni menjadi penentu keberhasilan Indonesia merebut Uber Cup untuk pertama kalinya. “Kemenangan kita disambut hangat warga Jakarta,” sambungnya.



Namun, keberhasilan itu tak berbanding lurus dengan ketebalan kocek para pemain. Tak ada bonus dari pengurus, pemerintah, apalagi sponsor untuk para pemain. Mereka hanya dapat kompensasi. “Dari hasil penjualan tiket Uber Cup, saya masih ingat, kita dapat Rp1 juta per orang,” lanjut Regina yang sejak 1990 bermukim di Amerika Serikat dan bekerja di Behavioral Medicine Center.


Hanya itu bentuk perhatian dan apresiasi yang mereka dapatkan. Euforia penyambutan kemenangan tim Uber pun tak sampai sepekan sudah redup. Para pemain kembali ke “asal”, seolah tak pernah memberi kebanggaan pada negeri. Regina bahkan saat jatuh sakit di Wisma Atlet Senayan empat hari pasca-final, tak ada yang menjenguk. Dokter yang memeriksa menjadi satu-satunya orang yang ditemuinya.


Minimnya perhatian itulah yang jadi perhatian Ibu Negara Tien Soeharto dan disampaikannya ketika mengundang tim Uber ke rumahnya, Jalan Cendana, 18 Juni. Ibu Tien berharap Regina dan kawan-kawan tak kecewa oleh sambutan terhadap keberhasilan tim Uber yang tak segempita sambutan terhadap keberhasilan tim Thomas. Tim Uber juga diharapkan tak kecewa oleh ketiadaan perhatian dalam bentuk bonus dari pemerintah.


“Ibu Tien memberi sambutan (wejangan), antara lain bahwa kita sebagai wanita Indonesia harus hidup sederhana. Setelah itu kita semua diberikan bahan kain brokat buatan dalam negeri,” ujar Regina mengenang.


Sepekan berselang, 24 Juni 1975, giliran Presiden Soeharto mengundang tim Uber ke Bina Graha. Mereka didampingi Ketua Umum PBSI Sudirman. “Pak Sudirman berkata pada kita, jangan minta apa-apa ke Presiden Soeharto,” ujar Regina.


Di Bina Graha, presiden memuji keberhasilan Regina dan kawan-kawan. “Piala Uber diraih tim Indonesia merupakan kebanggaan, terutama bagi kaum wanita, justru pada tahun wanita internasional dewasa ini,” ujar Soeharto, dilansir Kompas 25 Juni 1975.


Hanya kata-kata pujian itulah yang didapat tim Uber dari presiden. Perhatian konkret baru mereka peroleh sehari kemudian dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang mengundang mereka ke Balaikota. Ali menghadiahi tim Uber deposito senilai Rp300 ribu.  


Meski tak mendapat bonus pribadi, mereka senang dapat perhatian pemerintah (provinsi). “Padahal waktu itu kita semua sebagai pemain tidak ada seorang pun yang punya rumah. Begitulah bedanya pemain dulu dan sekarang yang fasilitasnya beda jauh,” imbuh Regina lagi.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
transparant.png
bottom of page