top of page

21 September 1943: Rakyat Sabah Membenamkan Matahari Terbit

Nasionalisme Tiongkok berpadu dengan kesulitan hidup akibat pendudukan Jepang membuat rakyat di Sabah melawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Albert Kwok, pemimpin gerakan perlawanan terhadap Jepang di Sabah. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

21 Sep 2022
6 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

HARI ini, 21 September 1943, 79 tahun silam, Albert Kwok (Guo Heng Nan) mendirikan Kinabalu Guerillas Force. Organisasi perlawanan terhadap penguasa militer Jepang itu didirikannya sebagai respon terhadap kekerasan yang dilancarkan para serdadu Nippon sejak menduduki Kalimantan Utara (kini Sabah).


Jepang menduduki Sabah pada pembukaan tahun 1942. Pendudukan Sabah, sebagaimana pendudukan kota-kota di Kalimantan yang diduduki Jepang sebelumnya, terbilang tanpa perlawanan berarti.


Jurnalis Nikolaos Theotokis menulis dalam Airborne Landing to Air Assault: A History of Military Parachuting, pasukan terjun payung Jepang pertama kali terlibat dalam pertempuran selama invasi Kalimantan pada Desember 1941. Tujuan utama kampanye ini adalah ladang minyak di Miri di wilayah Sarawak dan Seria di Brunei dan lapangan terbang yang dekat dengan perbatasan dengan British Malaysia (Sarawak).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page