top of page

Rapat Ikada yang Direka

Menghidupkan kembali memori peristiwa besar bernama Rapat Raksasa Ikada. Ajang show of force pertama Republik Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 17 Sep 2018
  • 3 menit membaca

Kencangnya hembusan angin tak mampu menghalangi massa dari Jakarta dan sekitarnya untuk hadir di Lapangan Monas. Mereka tak sabar menantikan para pemimpin republik naik podium.


Maka saat Presiden Sukarno yang mereka elu-elukan tiba bersama jajaran kabinetnya dengan pengawalan dari Latief Hendraningrat dan Moeffreni Moe’min dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta Raya serta Komisaris Mangil Martowidjojo dari Polisi Istimewa, serentak mereka langsung menatap ke arah rombongan itu.


Riuh pekik merdeka membahana ketika Sukarno akhirnya naik podium setelah Soewirjo (walikota Jakarta) dan Kasman Singodimedjo (BKR Pusat). Dahaga akan kepastian arah Proklamasi mereka terhapuskan sudah. Pertaruhan nyawa mereka ke tempat acara yang dijaga ketat serdadu Jepang bersenjata lengkap, tak sia-sia.


Namun, mereka akhirnya kecewa karena Bung Karno hanya berpidato sebentar. “Saudara-saudara, kita akan tetap mempertahankan proklamasi kemerdekaan kita. Kita tidak mundur satu patah katapun! Saya mengetahui bahwa saudara-saudara berkumpul di sini untuk melihat presiden saudara-saudara dan untuk mendengarkan perintahnya. Nah, apabila saudara-saudara masih setia dan percaya kepada presidenmu, ikutilah perintahnya yang pertama! Pulanglah dengan tenang. Tinggalkan rapat ini sekarang juga dengan tertib dan teratur dan tunggulah berita dari para pemimpin di tempatmu masing-masing. Sekarang, bubarlah. Pulanglah saudara-saudara dengan tenang,” ujar Sukarno yang dengan apik diperankan Rahmad Sadeli dari Pustaka Betawi, dan dipatuhi massa.


Begitulah suasana Rapat Akbar Ikada pada 19 September 1945 yang direkonstruksi Minggu (16/9/2018) petang kemarin di Lapangan Monas dengan tajuk “Samudera Merah Putih”. Reka ulang garapan Forum Warga Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu bertujuan untuk menghidupkan kembali satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa.


Adegan massa rakyat yang berkerumun menanti kedatangan Bung Karno dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia)
Adegan massa rakyat yang berkerumun menanti kedatangan Bung Karno dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia)

Rapat Raksasa Ikada diprakarsai Comite van Actie yang terdiri dari beragam elemen pemuda. Tujuannya ingin mempertemukan rakyat dengan para pemimpinnya sekaligus show of force di hadapan Gunseikanbu (pemerintah militer Jepang) yang ngotot mempertahankan status quo sampai datangnya Sekutu.


Imbauannya dirilis Komite Nasional Kota Besar Jakarta. “Tapi penggerak-penggerak utama di belakangnya adalah kelompok-kelompok pemuda yang secara longgar berkerumun di sekitar Menteng 31. Kurir-kurir menyebar dengan cepat ke kabupaten-kabupaten di sekitar Jakarta, mendesak supaya banyak orang hadir,” sebut Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.


Tapi toh Jepang tetap bergeming dengan memerintahkan para serdadunya menjaga ketertiban jalannya rapat. Jumlah massa yang begitu besar membuat mereka gelagapan. “Secara psikologis kekuatan tentara Jepang yang bertindak atas nama Sekutu untuk mempertahankan status quo dapat dipatahkan,” sebut Soejono Martosewojo dalam Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdiannya (1).


Meski kemudian rakyat membubarkan diri dengan kecewa lantaran singkatnya pidato Sukarno, lanjut Soejono, kepercayaan mereka terhadap pemerintah RI yang masih bayi ini menguat. “Kekompakan pemimpin dengan rakyat kian erat dan menjadi manifestasi yang tak kalah peranannya dibanding perjuangan fisik. Peristiwa ini jadi modal kekuatan batin yang melahirkan kepercayaan dan kepatuhan rakyat,” sambung Soejono.


Oleh karena itu, reka ulang Rapat Ikada digelar sebagai pengingat bahwa massa yang berasal dari golongan rakyat kecil punya peranan besar dalam penguatan proklamasi kemerdekaan. “Peranan mereka secara historis penting karena membuktikan bahwa proklamasi merupakan keinginan seluruh rakyat, bukan segelintir elit yang dituduh Sekutu dan Belanda sebagai kolaborator Jepang,” tutur sejarawan JJ Rizal yang juga selaku ketua pelaksana rekonstruksi Rapat Ikada


Selain detail adegan reka ulang yang dibuat semirip mungkin, kostum dan properti otentik sesuai kejadian asli dihadirkan oleh ratusan pesilat dari puluhan perguruan serta reenactors (pereka ulang sejarah) dari Bekasi, Bandung dan Jakarta.


Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia)

“Ini kejadian penting dalam perjalanan republik ini. Kejadian di mana pemerintah tidak boleh melupakan rakyat yang selama pendirian awal republik menghibahkan tenaga dan nyawanya untuk menyelamatkan proklamasi. Warga kampung harus mendapatkan yang dijanjikan republik ini. Menjanjikan perlindungan, mencerdaskan, kesejahteraan dan mari kita kembalikan janji itu untuk lunas bagi orang-orang kecil. Mulainya di Jakarta dan harus lunas di Jakarta,” cetus Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam sambutannya.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page