top of page

Ratna di Pulau Buru

Para tapol di Pulau Buru pernah mengira Ratna adalah istri komandan kamp yang belakangan menjadi walikota Medan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tentara sedang memberikan pengumuman kepada tahanan politik di Pulau Buru. (Dok. Hersri Setiawan via ypkp1965.org).

28 Nov 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 16 Mar

NUN jauh di Pulau Buru sana, tempat para tahanan politik (tapol) yang dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), ditampung demi Orde Baru. Di tahun 1970-an, salah satu  komandan dalam Proyek Tempat Pemanfaatan Tahanan Politik (Tefaat) Pulau Buru adalah Letnan Kolonel Agus Salim Rangkuti.


Sekitar 1971, para tapol mendapat perintah untuk menjemput ibu-ibu yang konon dari Persatuan Istri Tentara (Persit). Salah satunya istri komandan Tefaat itu. “Kami diperintahkan untuk menjemput istri Letnan Kolonel Rangkuti ke Pantai Sanleko,” kata Tedjabayu dalam Mutiara di Padang Ilalang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page