top of page

Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi

Dengan menggunakan kaki tangan pelayan, Belanda hendak melenyapkan nyawa Bung Karno dalam tawanan. Eksekusi urung terjadi lantaran si pelayan balik melawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno, Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim dalam tahanan Belanda di Parapat, 1949. Sebelum ke Parapat, ketiganya ditawan di pesanggrahan Desa Lau Gumbang, Brastagi, Tanah Karo. Sumber: Nederlands Instituut voor Militaire Historie

5 Apr 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 25 Feb

TIGA hari setelah Belanda melancarkan agresi militer yang kedua, Presiden Sukarno dipaksa meninggalkan Istana Negara Yogyakarta. Hanya lima menit waktu yang diberikan tentara Belanda bagi Sukarno untuk berkemas dan pamitan kepada keluarganya. Terbayang oleh Sukarno barangkali itulah ucapan selamat tinggal terakhir.


Pesawat Bomber B-25 Mitchell memboyong Sukarno ke Berastagi di Tanah Karno, Sumatra Utara. Selain Sukarno, turut serta pejabat tinggi Republik lainnnya, yaitu Sutan Sjahrir (penasihat presiden) dan Haji Agus Salim (menteri luar negeri). Rombongan tiba pada 22 Desember 1948. Mereka ditempatkan di suatu pesanggrahan di Desa Lau Gumba sebagai tawanan Belanda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page