top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sarkies Brothers, Kings of Hotel in Southeast Asia

The Sarkies family built a chain of luxury hotels in Southeast Asia, including Indonesia. The hotels are still well maintained to this day.

14 Jan 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

The Sarkies family built a chain of luxury hotels in Southeast Asia, including Indonesia. The hotels are still well maintained to this day.

  • 15 Jan 2025
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

Seeing the Dutch flag flying over the hotel, the Surabaya youths hit the roof. Failed negotiations to take down the flag led to a riot. Four young men approached and climbed to the top of the hotel. After lowering the flag and tearing off its blue color, they raised it again. People who gathered around the hotel welcomed them with excitement while shouting “Merdeka!” (Freedom!) 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page