top of page

Seni Jalanan Masa Revolusi

Mural, grafiti, poster, hingga baliho memenuhi sudut-sudut kota. Pertarungan visual Republik dan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

  • 2 Sep 2021
  • 2 menit membaca

Pada masa revolusi kemerdekaan, ruang-ruang publik di berbagai kota menjadi medan pertarungan visual Republik melawan Belanda. Dari mural, grafiti, poster, hingga baliho dalam bentuk yang masih sederhana. Sebagian besar dipakai sebagai propaganda membakar semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Sejarawan seni rupa Mikke Susanto dalam webinar “Jakarta Art Movement: Vandalisme, Ruang Publik, dan Street Art”, Selasa, 31 Agustus 2021, mengatakan seni jalanan sesungguhnya sudah berkembang sejak 1930-an. Namun, kala itu sebagian besar karya masih jauh dari pesan-pesan revolusioner. Pasca Proklamasi, seni jalanan sontak ramai berpartisipasi dalam revolusi.



Mikke menyebut bahwa bentuk awal seni jalanan (street art) saat itu berupa stensil. Bentuk ini dipakai karena pembuatannya lebih mudah dan murah. Stensil yang dibuat juga masih sederhana dengan menggunakan negatif film dari kertas dan semprotan manual.


Dari stensil, seni jalanan berkembang ke grafiti dan mural yang dibuat ditembok-tembok kota. Di Yogyakarta misalnya, sebuah tugu yang dulu berada di depan Hotel Garuda Malioboro menjadi titik strategis propaganda revolusi. Selain itu, poster-poster juga ditempel pada tembok dan kaca gedung, papan-papan, hingga pohon di pinggir jalan.


“Nah, ini adalah bentuk pertarungan opini ya. Jadi bagaimana kemudian antara orang-orang Belanda dan pejuang-pejuang Indonesia itu berebut ruang,” jelas Mikke.


Poster stensil digunakan pada masa revolusi karena mudah dan murah. (Dok. Mikke Susanto).
Poster stensil digunakan pada masa revolusi karena mudah dan murah. (Dok. Mikke Susanto).

Selain grafiti, mural, dan poster, ada pula seni jalanan berbentuk baliho. Dalam penelusurannya, Mikke menemukan baliho yang memuat visual laiknya komik. Konsep ini dipakai untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai situasi yang tengah terjadi. Konsep ini menjadi penting karena dapat menengahi minimnya publikasi-publikasi berbentuk buku.


“Jadi kita bisa membaca dari panel ke panel yang kemudian di sana muncul narasi baru yang bisa dipersepsikan oleh para penyimak karya tersebut,” kata Mikke.



Penempatan seni jalanan juga diperhatikan. Sama seperti konsep memasang patung di ruang publik, menurut Mikke, seni jalanan seperti baliho misalnya dibuat dengan mempertimbangkan jarak terbaik untuk dipandang atau dibaca.


“Sehingga di sini kita perlu melihat bahwa kehadiran baliho itu memberikan satu dimensi ruang yang luar biasa sebagai bagian dari bentuk perjuangan kala itu,” terang Mikke.


Grafiti yang dibuat pada gerbong kereta. (Dok. Mikke Susanto).
Grafiti yang dibuat pada gerbong kereta. (Dok. Mikke Susanto).

Menurut amatan Mikke, seni jalanan masa revolusi juga tidak sembarang bikin. Para seniman ternyata juga memperhatikan komposisi, garis, hingga bidang ruang. Seni jalanan yang terlihat seperti goresan-goresan belaka ternyata buah pemikiran yang bersifat estetik.


Selain dibuat di dinding atau papan, seni jalanan seperti grafiti juga ditorehkan pada gerbong kereta api. Ini dilakukan untuk menyebarluaskan berita Proklamasi dan semangat revolusi hingga ke kota-kota kecil yang dilalui kereta api.


“Dengan demikian kita bisa membayangkan betapa grafiti itu punya pengaruh yang sangat besar di masa revolusi,” tegas Mikke.



Mikke juga menambahkan, poster-poster kemudian dibuat dengan teknik yang lebih rumit dan dicetak. Adapula poster Sukarno yang dilukis oleh pelukis kenamaan Basuki Abdullah. Lukisan itu digandakan dengan ukuran A4 dan disebarkan ke seluruh Jawa.


Tak hanya Basuki Abdullah, ada pula Affandi yang melukis poster revolusi “Boeng, Ajo Boeng!” Dia juga melukis poster kemerdekaan lain yang kemudian dikoleksi oleh Sukarno. Lukisan berjudul Laskar Rakjat Mengatur Siasat (1946) itu kini tersimpan di Gedung Agung, Yogyakarta.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah was born into a prominent noble family. Yet, she chose the path of struggle.
bg-gray.jpg
Jalan panjang Maria Ullfah memperjuangkan keadilan bagi perempuan. Terhenti di zaman Jepang.
bg-gray.jpg
Setiati rallied women to commemorate the first anniversary of Indonesia’s independence at the site where the Proclamation was read. They pressed on despite being blocked by Gurkha soldiers.
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
<strong></strong>Melalui lukisan dan karya instalasi, beberapa perupa kontemporer Indonesia merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia.
Melalui lukisan dan karya instalasi, beberapa perupa kontemporer Indonesia merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia.
Philip Fullard jago udara yang melegenda dari Perang Dunia I. Ironisnya medali-medali kehormatannya dilelang keluarganya.
Philip Fullard jago udara yang melegenda dari Perang Dunia I. Ironisnya medali-medali kehormatannya dilelang keluarganya.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
transparant.png
bottom of page