top of page

Seperti Apa Pola Makan Orang-orang di Masa Lalu?

Orang-orang di masa lalu terbiasa makan dua kali sehari. Revolusi Industri mengubah kebiasaan makan menjadi tiga kali sehari.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sejumlah orang tengah menyantap makan malam, 1950-an. (Walter Blum/geheugen.delpher.nl).

6 Jan 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 31 Des 2025

KEBIASAAN makan tiga kali sehari tentu tak asing bagi orang-orang di masa kini, meski tak semua mengikuti pola makan tersebut. Sarapan, makan siang, dan makan malam membentuk pola makan untuk menopang aktivitas sehari-hari. Namun, jika melihat kehidupan masyarakat di masa lalu, waktu makan tidak diatur secara khusus. Kebiasaan menyantap hidangan di waktu-waktu tertentu umumnya dilakukan oleh orang kaya dan bangsawan.


Dulu, kebanyakan orang terbiasa makan dua kali sehari. Menurut sejarawan Caroline Yeldham sebagaimana dikutip dari artikel “Breakfast, lunch and dinner: Have we always eaten them?” termuat di BBC News Magazine, 15 November 2012, orang Romawi kuno bahkan hanya makan satu kali di siang hari. Menyantap hidangan di pagi hari justru menjadi hal yang tidak disukai.


“Orang Romawi percaya bahwa makan hanya satu kali sehari itu lebih sehat. Mereka terobsesi dengan proses pencernaan yang optimal dan makan lebih dari satu kali dianggap sebagai bentuk kerakusan. Pemikiran ini berdampak pada cara orang makan untuk waktu yang sangat lama,” sebut Yeldham.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page