top of page

Si Pitung dari Ciamis

Tak tahan menyaksikan rakyat kecil ditindas dan kelaparan, dia memutuskan jadi “perampok budiman”.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Djoeminta. (historiasoekapoera).

29 Mei 2017
2 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

DI Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat pada 1920, kondisi ekonomi tak menentu. Harga-harga kebutuhan pokok tak terjangkau oleh rakyat kecil hingga menyebabkan kelaparan dan penindasan oleh para rentenir.


“Dalam situasi seperti itu, salah seorang anggota Sjarekat Islam (SI) afdeeling B bernama S. Gunawan membentuk Sjarekat Rakjat (SR),” ujar Muhajir Salam, sejarawan Tasikmalaya kepada Historia.


SR banyak mendapat dukungan dari rakyat. Bukan hanya rakyat kebanyakan tapi juga sejumlah jawara (pendekar). Salah satunya bernama Djoeminta. Dengan kondisi masyarakat di sekitarnya, Djoeminta merasa prihatin dan iba hati. Karena uang tak punya, ia lantas menggunakan keahliannya berkelahi untuk menolong rakyat miskin, laiknya Si Pitung yang pernah menjalankan aksi-aksi serupa di Batavia puluhan tahun sebelumnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Wartawan lintas zaman yang tak pernah padam semangatnya. Tetap menulis sampai akhir hayat.
Wartawan lintas zaman yang tak pernah padam semangatnya. Tetap menulis sampai akhir hayat.
Lorong Zaman Puasa
Lorong Zaman Puasa
Gus Dur telah memberikan teladan, tinggal kita yang meneruskan.
Gus Dur telah memberikan teladan, tinggal kita yang meneruskan.
Meski tak punya prestasi di lapangan hijau, garda gawang legendaris Setan Merah ini satu-satunya kiper yang memiliki gelar pahlawan.
Meski tak punya prestasi di lapangan hijau, garda gawang legendaris Setan Merah ini satu-satunya kiper yang memiliki gelar pahlawan.
transparant.png
bottom of page