- 29 Mei 2017
- 2 menit membaca
Diperbarui: 7 hari yang lalu
DI Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat pada 1920, kondisi ekonomi tak menentu. Harga-harga kebutuhan pokok tak terjangkau oleh rakyat kecil hingga menyebabkan kelaparan dan penindasan oleh para rentenir.
“Dalam situasi seperti itu, salah seorang anggota Sjarekat Islam (SI) afdeeling B bernama S. Gunawan membentuk Sjarekat Rakjat (SR),” ujar Muhajir Salam, sejarawan Tasikmalaya kepada Historia.
SR banyak mendapat dukungan dari rakyat. Bukan hanya rakyat kebanyakan tapi juga sejumlah jawara (pendekar). Salah satunya bernama Djoeminta. Dengan kondisi masyarakat di sekitarnya, Djoeminta merasa prihatin dan iba hati. Karena uang tak punya, ia lantas menggunakan keahliannya berkelahi untuk menolong rakyat miskin, laiknya Si Pitung yang pernah menjalankan aksi-aksi serupa di Batavia puluhan tahun sebelumnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















