Diperbarui: 17 Agu
SETELAH lulus Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoeno, Slamet Rijadi belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Broederan di belakang Gereja Purbayan Solo. Dia tidak tamat sekolah menengah pertama itu karena tentara Jepang keburu mengalahkan dan menduduki Hindia Belanda. Jepang membuka sekolah pelaut di beberapa kota, salah satunya di Cilacap.
Slamet Rijadi mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap. Dia diterima dan berkawan dengan Soejoto dan Wardiman yang belajar navigasi dek. Selain belajar tentang pelayaran, para siswa SPT dibekali pula dengan sedikit teknik militer.
Setelah lulus SPT, Slamet Rijadi akan menjadi bintara kapal angkut Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Dia bersama para siswa SPT Cilacap, SPT Tegal, dan SPT Jakarta kemudian dilatih menggunakan senapan mesin Watermantel di Jakarta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















