- 12 Jul 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 26 Apr
“SOEHARTO gak lulus SD. Megawati gak lulus kuliah. Ki Hajar Dewantara tidak kuliah, lulusan SMA, jadi Bapak Pendidikan Republik Indonesia,” kata influencer Pandji Pragiwaksono ketika memberi contoh orang-orang sukes di Indonesia. Ucapan Pandji dalam kanal Youtube Kemal Palevi itu lalu dikutip. Begitu juga potongan audionya, dijadikan video motivasi di Instagram. Meski maksudnya baik, sayangnya ada yang tidak pas dari apa yang dikatakan Pandji itu.
Di zaman Soeharto bocah, ada beberapa jenis sekolah dasar. Paling elite adalah Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda untuk anak Eropa tapi menerima segelintir anak bangsawan tinggi bumiputra juga. Di bawah ELS ada Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang agak elite bagi golongan non-Eropa. Sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda ini untuk anak bumiputra. HIS muncul sejak 1914. Sekolah dengan lama pelajaran seperti HIS ini ada variannya. Untuk anak Tionghoa ada Hollands Chinesche School (HCS) dan anak-anak Jawa ada Hollandsche Javansche School (HJS).
Selain sekolah-sekolah dasar elite tadi, sejak lama sudah ada Volkschool (Sekolah Rakyat) yang lama belajarnya hanya tiga tahun. Ijazah Volkschool tak bisa disamakan dengan ijazah HIS. Jika ingin ijazahnya setara, seorang lulusan Volkschool harus bersekolah lagi di Schakelschool (sekolah sambungan), yang lama belajarnya 5 lima tahun. Setelah lulus Schakelschool, barulah ijazahnya sama seperti lulusan HIS. Ada juga lulusan sekolah dasar lima tahun, yang biasa dianggap Standard School, lalu belajar juga di Schakelschool.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















