top of page

Tanah untuk Kaum Tani

Demi kaum tani miskin dan tak bertanah, PKI mendorong pelaksanaan reforma agraria. PKI melakukan aksi sepihak yang memicu konflik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Peringatan 33 Tahun PKI. (Repro Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965).

10 Okt 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 23 Mei

SELAMA seminggu, 14-20 September 1953, Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai, Jakarta, ramai orang. Mereka perwakilan Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Rukun Tani Indonesia (RTI) dari berbagai daerah. Kedua organisasi tani itu tengah menghelat kongres fusi. Kesepakatan fusi tercapai. Dan BTI tetap dipakai sebagai nama organisasi.


Pada hari penutupan, Njoto, wakil ketua CC PKI, didaulat memberikan pidato. “PKI bukan hanya sehidup semati saja dengan kalangan tani. Tapi PKI akan berusaha sekeras-kerasnya untuk memberikan pimpinan yang sebaik-baiknya kepada perjuangan kaum tani untuk tanah, untuk revolusi agraria,” ujar Njoto, dikutip Harian Rakyat, 21 September 1953.


Pada 1950-an, PKI belum memberi perhatian serius terhadap kaum tani. Program agrarianya juga masih moderat. Program tersebut, yang dirumuskan pada Kongres tahun 1954, didasarkan pada tulisan D.N. Aidit berjudul “Hari Depan Gerakan Tani Indonesia” yang dimuat Bintang Merah, Juli 1953. Yakni, menyita semua tanah milik tuan tanah, asing maupun bumiputra, dan membagikannya kepada kaum tani tak bertanah dan miskin. Semboyan yang diusung: “tanah untuk kaum tani”.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page