top of page

Thilly Weissenborn, Exoticism Without Eroticism

This is the story of the first professional female photographer in the Dutch East Indies, who showcased the exoticism of Bali without exhibiting nudity.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Cockfighting in Bali, 1920, photographed by Thilly Weissenborn. (Wereldmuseum Amsterdam).

4 Feb 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

TWO Balinese women stood, staring at the camera. They were bare-chested; one holding a vessel above her head, the other one wearing a batik headscarf. The girls' poses and their naked body were far from erotic. The photo, taken around 1922, is one of the works of Margarethe Mathilde Weissenborn.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page