top of page

Usaha Belanda Menyingkirkan Dukun Beranak

Pemerintah kolonial berupaya menyingkirkan dukun beranak. Gagal total.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 8 Mei 2018
  • 2 menit membaca

SETELAH Kementerian Kesehatan mengeluarkan pedoman kemitraan bidan-dukun pada 2008, dukun beranak tak lagi mendapat izin menangani pasien sendirian. Mereka hanya diizinkan membantu bidan menangani persalinan.


Sebelumnya, pemerintah juga melakukan penataran tentang hiegenitas persalinan pada para dukun beranak. Kebijakan macam ini juga pernah diterapkan pemerintah kolonial pada akhir abad ke-19.


Kemunculan kebijakan pemerintah kolonial itu merupakan buntut dari pendirian sekolah bidan di Batavia tahun 1825 yang minim peminat. Kalangan bumiputera dan indo lebih mempercayakan  persalinan mereka kepada dukun beranak. “Bahkan zaman pemerintah Belanda yang masuk sekolah itu dipaksa-paksa saking nggak ada orang yang mau masuk. Akhirnya kan tutup,” kata sejarawan Martina Safitry.


Pemerintah kemudian mendirikan sekolah bidan baru pada 1886. Lulusan sekolah ini pun mengalami kendala karena penduduk bumiputera terbiasa melahirkan di dukun beranak. “Gaji buruk, hampir tidak ada upah tambahan, oposisi dari dukun yang tidak suka pekerjaan mereka diambil alih, oposisi dari penduduk yang tidak suka meninggalkan tradisinya,” keluh dokter HB van Buuren, yang bertugas di Kediri, seperti dikutip Liesbeth Hesselink dalam  Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies.


Pada Mei 1898, semua pejabat dan dukun bayi dari Kediri berkumpul. Pertemuan itu antara lain memperkenalkan Djasminah dan Tasminten, dua bidan baru yang akan bertugas di wilayah Kediri. Pemerintah berharap dengan hadirnya bidan, masyarakat tak lagi meminta bantuan dukun beranak untuk menangani orang melahirkan.


Kebijakan itu diikuti dengan pencatatan para dukun di Kediri oleh wedono (pemimpin daerah) setempat. Para dukun juga tidak diperbolehkan membantu persalinan lagi. Mereka hanya diizinkan membersamai para bidan. Tugas mereka baru dimulai setelah proses kelahiran selesai, sebagai dukun bayi.


Para dukun itu mendapat pelatihan dari dokter pemerintah. “Ada pelatihan dukun beranak dari pemerintah Belanda cuma nggak masif. Para dukun ini diajari tentang hiegenitas persalinan,” kata Martina.


Pelatihan itu sebelumnya ditolak beberapa pihak lewat berbagai perdebatan. Kepala Pelayanan Medis H. van Lokhorst berpendapat, akan sangat sulit melatih dukun beranak karena takhayul yang mereka percayai dan umumnya para dukun sudah lanjut usia. Ketidaksukaan kepada dukun beranak juga di katakan Van Buuren, yang menggambarkan dukun beranak sebagai orangtua yang tidak memadai dan tidak mampu membantu persalinan.


Penilaian Van Buuren itu keluar setelah dia dibantu seorang dokter Jawa dan seorang penerjemah menemui 35 dukun beranak. Dari pertemuan itu dia mendapati para dukun minim pengetahuan dan beberapa dukun buta atau tuli serta memiliki berbagai penyakit kulit. Van Buuren bahkan menyebut mereka sebagai “malaikat kematian lokal”.


Sementara para dokter Belanda tidak menyukai dukun beranak, beberapa dokter Jawa justru menaruh hormat pada para dukun beranak karena pengetahuan mereka seputar penyakit kulit, gangguan perut, dan persalinan. “Mereka (dokter Belanda, red.) kan sebetulnya mau menyingkirkan pengobatan tradisional dengan pengobatan barat. Padahal, pengobatan modern yang mereka bawa asal ilmunya dari negara-negara jajahan yang dibawa ke Eropa untuk diuji,” kata Martina.


Upaya pemerintah Belanda untuk menggeser peran dukun itu lalu ditentang seorang dukun. Hingga akhir Juni 1898 si dukun tetap memberi bantuan persalinan. Van Buuren lalu menghimbau penduduk agar tak meminta bantuan persalinan pada dukun beranak. Upaya itu gagal, para penduduk menolak karena tak ada peraturan dari polisi.


“Akhirnya ada kebijakan si bidan sama si dukun beranak itu saling berjalan bersama. Soalnya kalau jalan sendiri-sendiri nggak bisa. Dulu orang lebih percaya ke dukun beranak dibanding ke bidan atau dokter,” kata Martina.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kesaksian eks tentara Jepang tentang ianfu dan penyesalannya ikut dalam Perang Pasifik. Wawancara dilakukan Koichi Kimura sebelum Mitsuhiro Tanaka meninggal dunia tahun 1991.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page