top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Van Kleef, Polisi Nakal yang Ikut DI/TII

Bekas polisi bermasalah di era kolonial. Setelah masuk Islam dan DI/TII, kematiannya dianggap syahid.

19 Mei 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Van Kleef dengan berbagai nama samaran sebagaimana dimuat dalam selebaran daftar pencarian orang TNI AD (Pusat Sejarah Angkatan Darat)

Dulu pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) eksis karena menentang kehadiran tentara Belanda di Jawa Barat. Namun seiring berjalannya waktu, DI/TII malah menerima orang-orang Belanda dengan masa lalu terkait dengan pendudukan tentara Belanda di Jawa.


Salah satu yang diterima DI/TII adalah Kapten Schmidt atau Inspektur Polisi van Kleef. Bekas Inspektur Van Kleef bukan orang baru di Indonesia. Sebab, dia lahir di Hindia Belanda. Koran De Tijd edisi 19 Januari 1954 menyebut Van Kleef lahir di Malang, 15 April 1915. Ayahnya seorang Indo-Belgia dan ibunya seorang Indo-Jerman.



Ketika kecil, Van Kleef bersekolah di Sekolah Dasar untuk anak Eropa Europe Lager School (ELS) di Salatiga. Masa remajanya dia masuk SMP kolonial Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Semarang. Tahun 1933 dia tamat, lalu melanjutkan ke sekolah pelatihan di Bandung. Sembilan bulan di Kweekschool (sekolah guru) Bandung, ia kemudian pindah ke Apotheker School untuk menjadi asisten apoteker. Pada 1935, Van Kleef masuk ke Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan di Surabaya namun kembali lagi ke sekolah farmasi meski tak dapat ijazah.


Langkah penting dalam hidupnya terjadi pada 1937. Dia masuk Sekolah Polisi di Sukabumi. Dia dilatih sebagai calon Agen Kepala Polisi, setara sersan atau mayor polisi di masa Orde Baru. Setelah bertugas di Surabaya, dia kembali lagi ke Sukabumi. Dua tahun dia menjalani pelatihan lagi di sana. Sekeluarnya dari Sekolah Polisi itu pada 1941, dia menjadi Inspektur Polisi. Surabaya menjadi tempat tugasnya.


Namun belum lama ia bertugas, Hindia Belanda diduduki Jepang. Van Kleef pun memasuki masa sulit, dia dikurung tentara Jepang di Kamp Ngawi lalu dipindahkan ke Cicalengka. Van Kleef baru dibebaskan tentara Inggris pada 1945. Setelahnya dia dilatih kemiliteran dan diaktifkan kembali jadi polisi dengan pangkat Letnan yang setara Inspektur kelas satu.



Di masa Perang Kemerdekaan Indonesia, Van Kleef ditempatkan di Jatibaru, Jakarta. Setelah dipenjara sebentar lantaran dituduh mencuri mobil, dia dipindahkan ke daerah Senen. Di daerah ini, Van Kleef dikenal brutal. Julukan “De Tijger van Senen” alias “Harimau Senen” melekat padanya.


Dari Senen Van Kleef dipindahkan ke Bekasi. Seperti Senen, daerah Bekasi juga tidak aman bagi otoritas Belanda. Dalam Agresi Militer Belanda I, pertengahan 1947, Van Kleef dijadikan komandan Veldpolitie (Polisi Lapangan), yang bersenjata seperti tentara KNIL, di daerah Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.



Ketika di Jawa Timur ini, Van Kleef merampas perhiasan dari Haji Asaat, yang dekat dengan penguasa NICA Charles van der Plas. Penjara kembali menjadi “rumah” Inspektur van Kleef. Setelah bebas, dia dipindahkan kembali ke Jakarta, sebagai komandan polisi untuk daerah Lapangan Terbang Cililitan (kini Halim Perdanakusumah). Dia disebut-sebut sempat bertugas di Yogyakarta sebentar sebelum kembali ke Cililitan lagi. Pada 1948 dia ditangkap otoritas Belanda dan kemudian diberhentikan tidak dengan hormat dari Kepolisian Belanda di Indonesia.


Menurut Java-bode edisi 19 Juni 1956, setelah tentara Belanda mulai angkat kaki dari Indonesia pada 1950, Van Kleef terlibat dengan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang mengacau kota Bandung pada 23 Januari 1950.



“Dengan perantaraan seorang agen NEFIS (Polisi Rahasia Belanda di Indonesia), maka pada tanggal 12 Desember 1949 dia turut dalam gerakan APRA,” tulis Amak Sjariffudin dalam Kisah Kartosuwirjo dan Menjerahnya.


Begitu APRA digulung, bekas Inspektur Van Kleef mengamankan diri di sebuah rumah di Jalan Lembang, Bandung. Pada 1951, Van Kleef direkrut DI/TII. Dia menjadi pengepul informasi dan menggunakan beberapa alias seperti Smith, Sobar, dan Salman. Ada juga yang menyebut dia masuk Islam.



Dari dua pemberontakan yang melawan RI itu, DI/TII memberinya tempat beraktualisasi sebagai orang yang sejak awal anti-Republik Indonesia. Disebut-sebut oleh sejarawan Al Chaedar, Van Kleef si polisi nakal ini pada 1964 mati “syahid”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

Tan Tjeng Bok was known as an actor for three eras. He was once the highest-paid artist, but his life ended in sorrow. He was buried in the Petamburan Public Cemetery.
Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Singapura menyusul Filipina, Thailand, Malaysia, dan Timor-Leste ikut Olimpiade Musim Dingin. Indonesia kapan?
Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Dengan membuat kerajaannya terbuka sehingga kuat, Sultan Alauddin sulit ditaklukkan Belanda.
Senandung Nada di Lokananta

Senandung Nada di Lokananta

Studio musik pertama dan terbesar di Indonesia yang merekam suara-suara bernilai baik dari segi artistik. Lokananta tetap eksis sebagai saksi perkembangan musik Indonesia.
Demam Telenovela di Indonesia

Demam Telenovela di Indonesia

Bermula dari sandiwara radio di Kuba, revolusi membuka jalan alih wahana radionovela menjadi telenovela. Sinema Amerika Latin ini menyebar ke berbagai negara termasuk membanjiri layar kaca Indonesia.
bottom of page