top of page

Westerling Nyaris Tewas di Tangan Hendrik Sihite

Meski berkualifikasi pasukan komando, Westerling hampir terbunuh waktu bertugas di Medan. Serangan sekelompok laskar pimpinan Sihite menyebabkannya terluka parah.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 5 Jan 2024
  • 3 menit membaca

DARI Hotel de Boer, Letnan Raymond Westerling bekerja mengoperasikan jaringan intelijen tentara Belanda di Medan. Dalam waktu singkat, setelah tiba di Medan pada September 1945, Westerling mendapat pasokan informasi tentang orang-orang setempat yang dicurigai. Mereka masuk kategori pemberontak atau teroris. Satu nama yang menjadi incaran Westerling adalah Sihita.


“Saya ingat, suatu saat kami sedang menyerang seorang pembunuh berbahaya bernama Sihita, yang keberadaannya di sekitar kami telah dilaporkan oleh beberapa teman kami,” kenang Westerling dalam memoarnya Challenge to Terror.


Untuk meringkusnya, Westerling hanya disertai tiga orang pengawal. Dua anggota milisi dari kelompok anti-teroris, dan seorang lagi mata-mata. Tapi, misi itu tidak berlangsung mulus. Ketika Westerling bersama pengawalnya menyergap maju, mereka malah dihajar dengan lemparan granat. Serangan balik itu, seperti dicatat Westerling dalam memoarnya, hampir saja menewaskan dirinya. Serpihan ledakan granat pertama mengenai bagian belakang telinga Westerling. Dia pun jatuh pingsan seketika.



Westerling berhutang budi kepada para pengawalnya. Mereka bertarung menghadapi para laskar hingga akhirnya bisa membawa Westerling ke tempat yang aman. Westerling sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa dokter, ada pecahan serpihan granat yang menempel pada tulang tengkorak Westerling. Kendati luput dari maut, peristiwa itu meninggalkan bekas tonjolan di belakang telinga kanan Westerling.


Di kemudian hari, selama penugasannya di Medan, Westerling dikenal atas tindakan beringasnya. Dia memburu orang-orang yang berjuang di pihak Republik atau yang menentang pendudukan Sekutu dan Belanda. Bak algojo sadis, Westerling membunuh buron tangkapannya lalu mempertontonkan ke muka umum sebagai bentuk teror. Namun, perkara Sihita tak pernah dituntaskannya. Westerling gagal menjagal Sihita, orang yang hampir merenggut nyawanya. Siapa sebenarnya Sihita?


Sihita bukanlah nama. Penyebutan yang kaprah ialah Sihite, salah satu marga suku Batak Toba yang berasal dari Bakkara. Orang bermarga Sihite yang melukai Westerling aslinya bernama Hendrik Sihite.   



Menurut Officiële bescheiden betreffende de Nederlands-Indonesische betrekkingen 1945-1950, Volume 37, (Dokumen Resmi Mengenai Hubungan Belanda-Indonesia 1945-1950), Hendrik Sihite adalah seorang pejabat polisi tidak resmi yang memimpin Pasukan Kelima. Sementara itu, sejarawan Tengku Haji M. Lah Husny dalam Revolusi Sosial 1946 di Sumatera Timur/Tapanuli menyebut Pasukan Kelima dibentuk oleh Hendrik Sihite yang juga adalah Wakil Ketua Umum Pesindo Sumatra Timur. Dengan demikian, Pasukan Kelima yang dibentuk Sihite adalah unit pasukan khusus dari Pesindo Sumatra Timur.  


Informasi mengenai Hendrik Sihite banyak diperoleh dari keterangan Takao Fusayama, perwira penghubung (LO) tentara pendudukan Jepang. Takao mengenal Sihite sehubungan dengan kedudukan Jepang dalam menjaga status quo di Medan. Sebagai perwira penghubung, Takao bertugas menjaga hubungan dengan berbagai pihak, mulai dari pihak Sekutu, pemerintah Indonesia, hingga kelompok laskar.   


Menurut Takao, Pesindo merupakan kelompok laskar terkuat di Sumatra Timur pada masa awal Indonesia merdeka. Sementara itu, Pasukan Kelima cukup berkuasa di Medan. Itulah sebabnya dia ditugaskan menemui Sihite agar mencegah kelompoknya bergesekan dengan orang Jepang.



“Kekuasaan Sihite yang pada waktu bersamaan memegang komando Pesindo dan Pasukan Kelima tidak ubahnya sebagai matahari yang lagi terbit dan dianggap lebih berkuasa daripada Gubernur Hasan ataupun Komandan Divisi TKR, Kol. Achmad Tahir. Para pemuda dari Kelompok Intel dalam Pasukan Kelima berada dalam keadaan yang penuh semangat,” catat Takao Fusayama dalam memoarnya A Japanese Memoir of Sumatra, 1945-1946: Love and Hatred in the Liberation War.


Namun, di balik kekuatan pasukannya yang diperhitungkan, sosok Sihite menyandang reputasi buruk. Sihite diisukan sebagai agen Belanda yang menyamar sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan. Di kantor Liaison Jepang, Takao mendengar desas-desus kedekatan rahasia Sihite dengan Kolonel Knottenberg, pimpinan NICA yang sohor karena keahliannya dalam bidang manuver.


“Tidak diketahui sejauh mana kebenaran rumor itu. Sejumlah tanda keragu-raguan bagaimanapun timbul di sekelilingnya,” demikian Takao Fusayama.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
transparant.png
bottom of page