top of page

Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah

Tugu Romusha di Bayah jadi pengingat bab sejarah getir romusha. Ironisnya kini sudah roboh.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 19 Jan 2024
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 12 Jun 2025

PEDESTAL berbalut cat hitam itu masih bertahan. Tidak seperti bangunan persegi setinggi kira-kira dua meter di atasnya yang, sayang, sudah tumbang. Pecahan keramik putih yang menyelimutinya bertebaran di ilalang sekitarnya.


Masyarakat sekitar menyebutnya Tugu/Monumen Romusha. Letaknya di tepian Jalan Raya Bayah-Malingping, tak jauh dari SMPN 1 Bayah, Banten. Disebut tugu peringatan karena dikatakan masyarakat setempat, situs itu merupakan bekas salah satu kuburan massal romusha.


"Iya (itu) Tugu Romusha. Saya di sini sudah 33 tahun, tugunya sudah ada," ujar Cucu Sulastri, warga setempat, kepada Historia, Jumat (19/1/2024).


Monumen itu masih berdiri tegak saat Historia menyambanginya, Kamis (18/1/2024) sore. Akan tetapi ketika kembali menengoknya sehari berselang, Jumat (19/1/2024), situs itu sudah roboh. Cucu yang memiliki toko pakan hewan di samping situs itu menduga badai hujan ekstrem sejak petang kemarin jadi penyebabnya.


"(Tumbang) kira-kira jam 4 pagi. Mungkin karena hujan angin gitu. Soalnya kan tidak ada (terjadi) gempa," imbuhnya.



Cucu Sulastri (kanan) yang buka warung/toko di sebelah tugu/monumen (Randy Wirayudha/Historia)
Cucu Sulastri (kanan) yang buka warung/toko di sebelah tugu/monumen (Randy Wirayudha/Historia)

Ironisnya kala mendatangi situs itu sebelum roboh, kondisinya memang sangat tidak terawat. Jangankan terawat, prasasti yang menerangkan identitas dan latar belakang sejarahnya pun sudah hilang. Belum lagi ilalang lebat yang menyelimuti sekelilingnya dan anak tangganya dan kondisi bendera merah-putih di pucuk bangunan itu sudah lusuh dan rusak di tepian kainnya.


Padahal situs merupakan satu-satunya pengingat paling jelas soal sejarah kelam romusha atau pekerja paksa zaman pendudukan Jepang (1942-1943) di pesisir selatan Banten. Menurut rekan seprofesi yang kampung halamannya tak jauh dari Bayah, memorabilia lain sisa romusha sudah hilang seiring zaman, di antaranya jejak rel keretaapi Bayah-Saketi dan stasiun kecilnya sebagai sarana angkut eksploitasi batubara.


Informasi lain juga menyebutkan terdapat sumur dan kuburan massal romusha serta gua bekas tambang batubara di Pantai Pulo Manuk yang berlokasi tujuh kilometer dari situs monumen itu. Sayangnya tidak ada tanda-tanda keberadaannya ketika Historia melacaknya ke pantai yang sudah jadi destinasi wisata itu. Hanya saung-saung yang bertebaran untuk pengunjung semata sepanjang mata memandang di segenap bibir pantai berkarang tersebut.



Tugu Romusha sebelum (kiri) dan sesudah roboh (kanan) (Randy Wirayudha/Historia)
Tugu Romusha sebelum (kiri) dan sesudah roboh (kanan) (Randy Wirayudha/Historia)

Bung Karno dan Tan Malaka di Antara Romusha


Tanah di Bayah diketahui kaya akan batubara sudah sejak era kolonial. Sebuah perusahaan partikelir sudah mendapat izin untuk membuka tambangnya sejak 1903, kendati hingga Jepang menduduki Pulau Jawa pada April 1942, tambang itu tak kunjung dibuka. Kekayaan alam yang potensial untuk bahan bakar fosil itu pun jatuh ke tangan Jepang.


"Bayah waktu itu merupakan pusat eksploitasi tambang batubara. Pasokan kebutuhan batubara untuk Pulau Jawa yang sebelumnya dipasok dari Sumatera, terhenti karena operasi militer pasukan Sekutu," tulis Yudi Latif dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan.


Guna keperluan eksploitasi cadangan batubara yang kala itu diperkirakan hingga 20 juta ton itu, Jepang lebih dulu membuat infrastrukturnya berupa jalur keretaapi Bayah-Saketi sepanjang 89 kilometer beserta stasiun kecilnya. Namu amat disayangkan, nyaris tidak ada sisa yang tertinggal. Untuk kebutuhan mendesak pembangunan jalur itu, Jepang mendatangkan puluhan ribu romusha dari Jawa Tengah dan Jawa Timur via ajakan tokoh nasionalis Sukarno alias Bung Karno yang mengetuai Poesat Tenaga Rakjat (Poetera). Pembangunannya dimulai medio 1943 dan selesai pada Maret 1944.


"Setidaknya sekitar 30.000 pekerja (romusha) membangun jalan keretaapi ini. Banyak yang tewas karena malaria dan kekurangan makanan," imbuhnya.



Bung Karno tidak hanya memandori proyek yang banyak memakan korban itu. Tetapi juga ikut menyisingkan lengan baju sebagai pekerja bernomor lengan "970". Belakangan ia menyesalinya.


"Dalam kenyataannya, aku-Soekarno-yang mengirim mereka pergi bekerja. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha," aku Bung Karno dalam otobiografinya yang dituliskan Cindy Adams, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.


Bung Karno saat berpidato di hadapan para romusha (Repro: Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia)
Bung Karno saat berpidato di hadapan para romusha (Repro: Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia)

Saat jalur keretanya sudah rampung, eksploitasi batubaranya pun dimulai. Pemerintah militer Jepang memberi konsesinya kepada perusahaan swasta Bayah Kozan milik keluarga pebisnis Sumitomo. Namun di samping itu, kondisi para romusha di tambang batubara juga tidak lebih baik dari mereka yang menderita di proyek pembangunan keretanya.


"Ribuan orang (romusha) tewas selama operasi penambangan di Bayah yang saat itu terkenal dengan wabah kudis, disentri, dan malaria," sambung Yudi.


Sementara Jepang yang menikmati hasilnya. Diperkirakan Jepang mengeruk 300 ton batubara per harinya.



Penderitaan puluhan ribu romusha itu turut jadi perhatian aktivis kiri, Tan Malaka, yang kebetulan menjadi pekerja di pertambangan itu. Dengan nama samaran Iljas Hoessein, Tan berangkat dari Jakarta setelah melihat sebuah pengumuman lowongan kerja juru tulis yang dilihatnya usai ke perpustakaan. Tan lalu melamar dan diterima. Sebagai juru tulis di Bayah Kozan, Tan diam-diam menyusup dan berbaur dengan para romusha di pertambangan tersebut.


Tan nyaris tak pernah berdiam di belakang meja. Ia lebih sering "blusukan" ke beberapa situs tambang di dekat Pantai Pulo Manuk untuk menilik lebih dalam kondisi para romusha. Beberapa kali pula ia mencatat data kematian, yang tertinggi mencapai 500 jiwa per bulannya.


Pantai Pulo Manuk di Bayah, Banten (Randy Wirayudha/Historia)
Pantai Pulo Manuk di Bayah, Banten (Randy Wirayudha/Historia)

Acapkali ia juga menyebar nasihat  di antara para romusha akan pentingnya menjaga kesehatan demi menekan angka kematian. Saking ibanya, kadang Tan Malaka juga merelakan upahnya untuk dibelikan makanan tambahan kepada mereka yang sering kekurangan makanan. Para romusha itu diupah dengan sangat memprihatinkan: 40 sen per hari dan 250 gram beras.


Inisiatif lainnya, sebagaimana disingkap buku Cerita Pilu Korban Kerja Paksa Romusha Jepang, adalah dengan menggalang pemuda setempat untuk mendirikan beberapa dapur umum dan rumahsakit darurat. Itu ia lakoni karena usulannya kepada Jepang untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja berkali-kali menemui jalan buntu.


"Kita dapat mempraktikkan rasa tanggung jawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang," tukas Tan Malaka dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara.






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page