top of page

Hasil pencarian

9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebelas Pesepakbola Dunia di Layar Perak (Bagian II)

    CAK Jim sangat mengumbar prestisnya sebagai manajer yang mampu mengorbitkan artis papan atas. Sosok bule yang fasih logat Jawa Timur-an itu pada akhirnya ditangkap polisi justru lantaran ternyata seorang penipu yang dicari-cari. Karakter itu diperankan Timo Scheunemann, mantan pemain Persiba Balikpapan dan Tampine Rovers serta pelatih Persema Malang dan Persiba, dalam film drama-komedi Yowis Ben 2 yang tayang sejak 14 Maret 2019. Film itu merupakan satu dari tiga film yang pernah melibatkan pria berdarah Jerman kelahiran Kediri, 29 November 1973 itu. Sebelumnya, Timo pernah mentas di film Tendangan dari Langit (2010) sebagai dirinya sendiri (pelatih bola) dan Rudy Habibie (2016) sebagai pastur Gilbert. Timo bukan satu-satunya mantan pesepakbola di Indonesia yang banting setir ke dunia akting. Di akhir 1970-an, ada nama Muthia Datau, kiper cantik Buana Putri dan timnas putri Indonesia. “Ya kebetulan cocok ketika ada yang menawari main film, ya sudah (mulai membintangi film). Dulu pertamakali main film layar lebar judulnya Sepasang Merpati (1979). Terus lanjut ada Malu-Malu Kucing, Sirkuit Kemelut. Banyak kok, sekitar enam film,” ujarnya kepada Historia, medio Januari 2018.

  • Sebelas Pesepakbola Dunia di Layar Perak (Bagian I)

    RAUT muka Shahrukh Khan begitu sumringah. Senyum tersungging di bibirnya saat aktor kawakan Bollywood itu foto bareng playmaker Arsenal Mesut Özil, salah satu pesepakbola yang diidolakannya. Momen itu melengkapi kebahagiaannya setelah menyaksikan sendiri di Emirates Stadium Özil dkk. menang 2-0 atas Newcastle United di matchday ke-32 Premier League, Senin (1/4/2019). Shahrukh Khan datang ke Emirates Stadium atas undangan Özil. Selepas laga, foto bersama plus hadiah jersey bernomor punggung 10 Arsenal milik Özil pun jadi “oleh-oleh” terbaiknya. Shahrukh Khan tak lupa mengundang balik Özil dan pacarnya, Amine Gülşe, untuk mengunjungi negerinya “Sebuah malam yang menyenangkan selamat @Arsenal. Terima kasih @MesutOzil1088 & Amine Gülşe untuk keramahannya. Sampai ketemu di India,” kicaunya di akun Twitter-nya, @iamsrk, 1 April 2019. Bukan rahasia bahwa Shahrukh Khan menggilai sepakbola. Pada 2016, dia sempat dirumorkan berniat membeli sebuah klub di Kalkuta. Sebelum terjun jadi aktor pun, dia pernah merumput walau hanya sebagai amatiran antar-sekolah. Saat bersekolah di St. Columba’s, Shahrukh rutin bermain sampai terkena cedera punggung yang mengakhiri kiprahnya.

  • Inoue Gila karena Murni

    GERAKAN Aron pecah di Sumatra Timur pada masa pendudukan Jepang. Kapten Inoue Tetsuro, Kepala Kepolisian Deli-Serdang, diperintahkan untuk membasminya. Setelah mempelajari insiden-insiden gerakan Aron, pada 7 Agustus 1942 Inoue mendatangi rumah Iwan Siregar alias Iwan Siregar, Ketua Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) Sumatra Timur. Inoue disambut oleh seorang perempuan Indo bertubuh jangkung dan ramping. Perempuan bernama Murni itu kemudian memanggil Iwan. “Iwan yang segera muncul adalah pria yang sangat jelek, sangat bertolak belakang dengan istrinya yang cantik,” tulis Inoue Tetsuro dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942–1945. Inoue membawa Iwan ke kantor polisi malam itu juga. Keesokan harinya, ia datang lagi menggeledah rumah Iwan untuk mencari dokumen yang diperlukan dan bertemu lagi dengan istri Iwan. Murni begitu tenang dan tampak bertanggung jawab atas rumah. Inoue pun kehilangan minat mencari dokumen karena dengan perempuan seperti itu, sepertinya tak ada dokumen penting yang akan didapat.

  • Indonesia Mendapatkan Uang dari Penyelundupan

    DI MASA-masa awal Indonesia merdeka, pemerintah menghadapi kesulitan akibat keterbatasan dana. Pemerintahan bekerja seadanya sehingga tidak mirip dengan pemerintahan yang selayaknya. “Kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada mesin ketik, alat kantor, pesawat terbang; satu-satunya peralatan radio yang dapat diselamatkan buatan tahun 1935. Kami juga tidak memiliki uang,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Uang Jepang masih dapat ditemukan, tetapi nilainya merosot. Pemerintah Indonesia kemudian mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) di Malang pada 1946. Menurut Sukarno, meski secara teori Indonesia telah memiliki uang sendiri, tetapi mutunya tidak bagus sehingga tidak diterima di luar negeri. “Kami tidak mempunyai apa-apa sebagai penjamin uang kertas itu...,” katanya.

  • Perang Jawa dalam Buku Karya Pelaku Sejarah

    PERANG Jawa berlangsung selama lima tahun (1825–1830). Kendati berhasil menangkap dan membuang Pangeran Diponegoro ke luar Jawa, perang ini menyebabkan kerugian besar bagi Belanda. Demi menumpas perlawanan Pangeran Diponegoro, pemerintah kolonial menghabiskan dana yang sangat besar bahkan nyaris membuat Belanda bangkrut. Besarnya kerugian yang harus ditanggung Belanda membuat pemerintah kolonial berupaya untuk mencegah perang ini terulang kembali. Di antaranya dengan memasukkan Pangeran Diponegoro dan keluarganya ke dalam daftar orang-orang berbahaya bagi keamanan dan ketertiban. Hal ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan informasi mengenai sang pangeran di pengasingan maupun sepak terjangnya dalam mengobarkan Perang Jawa. Atas dasar ini, menurut sejarawan Inggris, Peter Carey, menyebarkan informasi mengenai Pangeran Diponegoro, termasuk membahas Babad Diponegoro yang ditulis sang pangeran saat diasingkan ke Manado, merupakan tindakan melawan pemerintah kolonial Belanda.

  • Pembunuhan di dalam Bus

    SALEH, berumur sekitar 38 tahun dan berasal dari Lubuk Sikaping, berada di dalam bus bersama istri dan anaknya. Ia dan keluarganya melakukan perjalanan dari Perak hendak mengunjungi ibunya yang sakit di Rau. Namun, selama perjalanan istri Saleh mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari penumpang lain. Penumpang lain di dalam bus di antaranya anak-anak yang baru lulus sekolah kedokteran hewan, seorang haji, dan seorang bidan. “Para siswa sangat berisik dalam perjalanan dan, bersama dengan sang haji, melakukan berbagai macam perbuatan yang tidak pantas kepada istri pelaku,” tulis Deli Courant, 15 Februari 1934. Perbuatan tidak menyenangkan itu berlangsung sejak Saleh dan keluarganya menaiki bus. De Sumatra Post, 24 Februari 1934, menyebut selama perjalanan dari Medan ke Sibolga, istri Saleh dilecehkan beberapa kali.

  • Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan

    EKSPRESI sesosok dara dalam sebuah potret lukisan itu begitu datar tapi sepasang mata bolanya menatap tajam. Beberapa helai rambut hitamnya melambai ke samping tertiup angin. Namun takkan ada satupun pesan yang bisa keluar dari bibir manisnya karena ia terbungkam beraneka simbol –berupa barisan titik-titik, tentakel bercapit seperti kepiting, seekor kerbau terbalik, dan seekor kupu-kupu– yang saling bertumbukan dan menyumpal mulutnya. Tidak hanya mulut yang ditutupi. Dadanya juga tertutup gambar seporsi burger dan kepala kerbau yang bak menggambarkan pembungkaman terhadap hatinya. Burger berbendera VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur, red.) itu kemudian dicokoti tiga ekor tikus putih. Lukisan unik yang tersapu dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120 x 100 cm itu merupakan lukisan realis bertajuk “Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme” karya Bambang Prasadhi. Sang pelukis terinspirasi dari buku Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker yang bernama pena Multatuli.

  • Kisah Pemalsu Lukisan-lukisan Terkenal

    ELMYR de Hory dikenal sebagai pemalsu karya seni terbesar pada abad ke-20. Kariernya sebagai pemalsu karya seni dimulai pada suatu sore pada April 1946. Ketika itu, kenalannya Lady Malcolm Campbell, istri mendiang pembalap Sir Malcolm Campbell, mengunjungi studio seninya di Paris, Prancis. Kenalannya yang kaya raya itu berkeliling melihat sejumlah lukisan yang terpajang di studio seni De Hory, dan di antara lukisan-lukisan De Hory yang beraliran post-impresionisme, Campbell melihat sebuah lukisan abstrak tanpa tanda tangan dan tanpa bingkai yang ia kira karya Pablo Picasso. Tertarik dengan lukisan tersebut, Campbell yang salah mengidentifikasi lukisan itu sebagai karya Picasso segera bertanya kepada De Hory, apakah ia berniat untuk menjualnya. Campbell bersedia membelinya dengan harga sekitar 100 dolar AS. De Hory menyetujui penawaran itu.

  • Pembatasan Sosial dan Isolasi Diri dalam Lukisan

    SIAPAPUN Anda, yang berada di epicenter pandemi virus corona (SARS-Cov-2) diimbau keras untuk membatasi diri dari aktivitas sosial (physicaland social distancing). Isolasi diri jika tak punya keperluan penting ke luar rumah. Demikianlah inti pesan pemerintah setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di ibukota per Jumat (10/4/2020). Imbauan, bahkan peringatan keras senada juga digaungkan sejumlah negara yang melakoni lockdown dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus corona. Intinya, setiap orang diimbau untuk tetap berada di rumah. Tentu kebosanan datang. Yang biasanya sering kelayapan entah untuk bekerja atau nongkrong, kini terpaksa harus anteng di rumah. Pasti ada banyak di antara kita yang hanya bisa menatap kosong ke arah luar dari jendela rumah, kangen akan dunia di luar rumah, dan mengharap pandemi virus corona ini segera berlalu.

  • Badilah Perintis Aisyiyah

    SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Badilah Zuber, Ketua Aisyiyah, sedang di sekolahnya ketika segerombolan Kempeitai mendatanginya. Sekonyong-konyong mereka mengajukan pertanyaan. “Apakah Nyonya menjadi ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah?” “Saya menjadi ketua karena saya yang paling tua di antara mereka,” jawab Badilah. “Hasil Nyonya menjadi guru itu cukup atau Nyonya mempunyai kekayaan?” “Kami orang dituntun untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kecukupan hidup,” kata Badilah. Itu merupakan kali kedua Kempeitai mendatangi Badilah. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Islam Aisyiyah, beberapakali ia dipanggil untuk diinterogasi. Jepang mengawasi gerakan perempuan dengan amat ketat. Semua naskah pidatonya diperiksa sebelum dibacakan kepada khalayak.

  • Penggerak Kaum Perempuan

    UDARA pagi menerpa wajah kaum perempuan yang berbaris di depan kantor Wani (Wanita Negara Indonesia) di gedung SKP (Sekolah Kepandaian Putri) (kemudian menjadi gedung bioskop Metropole atau Megaria) di kawasan Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, pada 17 Agustus 1946. Mereka akan pawai menuju tempat pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Saat itu, kediaman Presiden Sukarno menjadi kantor Sutan Sjahrir, perdana menteri merangkap menteri luar negeri. Sementara Sukarno hijrah ke Yogyakarta karena Jakarta tidak aman setelah diduduki Belanda yang membonceng Sekutu dan mendirikan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, kaum perempuan bergerak menuju Pegangsaan Timur 56. Meski diadang pasukan Gurkha, mereka terus bergerak untuk merayakan satu tahun kemerdekaan sekaligus menyaksikan peresmian Tugu Proklamasi.

  • Leo Wattimena, Si Gila Kebanggaan AURI

    GELANG akar bahar selalu melekat di lengan kanan Leo Wattimena kala menerbangkan pesawat. Untuk keberuntungan, katanya. Di kalangan teman-temannya sesama penerbang, dia mendapat julukan kehormatan "penerbang gila" karena ulahnya yang sering kelewat berani. “Ulahnya memang macam-macam, tapi penuh perhitungan,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Serenceng gelar melekat pada diri Leo Wattimena. Mulai dari good pilot, G-maniac, sampai dianggap orang yang paling mengenal pesawat tempur P-51 Mustang. Salah satu kebiasaan “gila” Leo adalah kesukaannya melakukan manuver putar balik 360 derajat.

bg-gray.jpg
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
bg-gray.jpg
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
bottom of page