top of page

Badilah Perintis Aisyiyah

Dikenal sebagai perintis Aisyiyah, Badilah Zuber memandang pemahaman agama dan pendidikan menjadi jalan untuk merdeka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Badilah Zuber duduk ketiga dari kanan bersama pengurus Aisyiyah lainnya. (Suara Muhammadiyah).

16 Mei 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 15 Mei

SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Badilah Zuber, Ketua Aisyiyah, sedang di sekolahnya ketika segerombolan Kempeitai mendatanginya. Sekonyong-konyong mereka mengajukan pertanyaan.


“Apakah Nyonya menjadi ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah?”


“Saya menjadi ketua karena saya yang paling tua di antara mereka,” jawab Badilah.


“Hasil Nyonya menjadi guru itu cukup atau Nyonya mempunyai kekayaan?”


“Kami orang dituntun untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kecukupan hidup,” kata Badilah.


Itu merupakan kali kedua Kempeitai mendatangi Badilah. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Islam Aisyiyah, beberapakali ia dipanggil untuk diinterogasi. Jepang mengawasi gerakan perempuan dengan amat ketat. Semua naskah pidatonya diperiksa sebelum dibacakan kepada khalayak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page