- 16 Mei 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 15 Mei
SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Badilah Zuber, Ketua Aisyiyah, sedang di sekolahnya ketika segerombolan Kempeitai mendatanginya. Sekonyong-konyong mereka mengajukan pertanyaan.
“Apakah Nyonya menjadi ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah?”
“Saya menjadi ketua karena saya yang paling tua di antara mereka,” jawab Badilah.
“Hasil Nyonya menjadi guru itu cukup atau Nyonya mempunyai kekayaan?”
“Kami orang dituntun untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kecukupan hidup,” kata Badilah.
Itu merupakan kali kedua Kempeitai mendatangi Badilah. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Islam Aisyiyah, beberapakali ia dipanggil untuk diinterogasi. Jepang mengawasi gerakan perempuan dengan amat ketat. Semua naskah pidatonya diperiksa sebelum dibacakan kepada khalayak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















